Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga emas naik untuk sesi keempat berturut-turut pada Rabu (waktu setempat), seiring melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) dan menguatnya aset-aset berisiko. Kenaikan ini terjadi di tengah harapan awal bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi mereda.
Data Reuters yang mengutip perdagangan pasar spot menunjukkan, harga emas tercatat naik 2,5% menjadi US$ 4.784,22 per ons pada pukul 17.30 GMT, atau menjadi level tertinggi sejak 19 Maret. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup menguat 2,9% ke posisi US$ 4.813,10 per ons.
Penguatan emas turut didorong oleh melemahnya dolar AS yang turun untuk hari kedua berturut-turut. Kondisi ini membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah dan menarik bagi investor pemegang mata uang lain.
“Harga emas bisa kembali menembus level US$ 5.000 per ons jika pasar melihat arah menuju de-eskalasi konflik, karena ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa muncul lagi,” kata Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures.
Ia menambahkan, perhatian pasar saat ini tertuju pada Iran dan Selat Hormuz, termasuk bagaimana konflik berkembang serta arah kebijakan yang mungkin diambil ke depan.
Presiden AS Donald Trump dalam unggahan di Truth Social menyebut Presiden Iran meminta gencatan senjata. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menepis klaim tersebut dan menyebutnya “palsu dan tidak berdasar”.
Baca Juga: Mengejutkan! Jakarta Kalahkan Bangkok & Kuala Lumpur di Daftar Kota Teraman ASEAN
Trump dijadwalkan menyampaikan pidato kepada publik pada Kamis pukul 01.00 GMT. Sebelumnya, Axios melaporkan bahwa diskusi mengenai gencatan senjata sedang berlangsung.
Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan, berakhirnya konflik bisa menjadi pedang bermata dua bagi emas.
“Di satu sisi, jika ada kesepakatan damai yang bertahan lama, maka faktor safe haven dari ketegangan geopolitik yang selama ini menopang harga emas bisa menghilang,” ujar Sycamore.
Namun di sisi lain, turunnya harga minyak dan meredanya tekanan inflasi dapat memunculkan kembali ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026, yang justru bisa mendukung kenaikan harga emas.
Sebagai catatan, harga emas spot sempat turun lebih dari 11% pada Maret. Penurunan itu terjadi setelah lonjakan harga energi akibat perang Iran memicu kekhawatiran inflasi dan membuat pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Emas biasanya dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven) saat terjadi ketegangan geopolitik maupun inflasi. Namun, suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Tonton: Fakta Baru! Israel Bantah Tanggung Jawab atas Gugurnya TNI di Lebanon
Dari sisi data ekonomi AS, laporan ketenagakerjaan ADP menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja sektor swasta meningkat stabil pada Maret. Selain itu, penjualan ritel AS juga naik cukup kuat pada Februari, meski lonjakan harga bensin dikhawatirkan dapat menekan belanja masyarakat dalam beberapa bulan ke depan.
Selain emas, harga perak spot naik 1,2% menjadi US$ 76,03 per ons. Harga platinum menguat 1,6% ke US$ 1.979,30, sedangkan palladium naik 1,3% menjadi US$ 1.495,95 per ons.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












