Sumber: Benzinga | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Keputusan penulis Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, untuk menjual perak dan beralih ke Bitcoin pada awal tahun ternyata tidak berjalan sesuai harapan.
“Sejak 1964, saya menabung perak,” kata Kiyosaki dalam pembaruan di kanal YouTube-nya pada Januari seperti yang dilansir Benzinga.
Dia menambahkan, “Sekarang saya menukar perak saya untuk membeli lebih banyak Bitcoin, karena dulu saya membeli perak di harga 10 sen per ons. Hari ini harganya US$ 30 per ons. Jadi dolar turun, harga perak dan emas naik. Sekarang saya akan menukarnya dengan Bitcoin.”
Saat itu, Kiyosaki menyebut Bitcoin sebagai “uang generasi ini” dan menilai aset tersebut diuntungkan oleh meningkatnya utang Amerika Serikat. Ia memperkirakan utang AS akan terus membengkak dan mendorong harga Bitcoin ke US$ 250.000 dalam setahun.
Namun, hingga akhir tahun, prediksi tersebut tidak terwujud. Bitcoin gagal mencapai level yang diharapkan, hanya sempat melonjak ke sekitar US$ 126.000 sebelum turun dan diperdagangkan di kisaran US$ 87.000, atau turun 11% secara year-to-date. Di tengah tekanan tersebut, Kiyosaki mengaku telah menjual kepemilikan Bitcoinnya untuk mendanai investasi properti.
Baca Juga: Era Warren Buffett Berakhir: Ini Tantangan Besar Penerus Berkshire Hathaway
Sebaliknya, harga perak justru melonjak ke rekor baru mendekati US$ 84 per ons. Meski sempat terkoreksi ke sekitar US$ 72 per ons, harga perak tetap mencatatkan kenaikan lebih dari 140% sepanjang tahun ini.
Perak Menuju US$ 200, Tapi Crash Besar Datang Lebih Dulu?
Di tengah reli harga perak, Kiyosaki masih menunjukkan pandangan bullish. Dalam sejumlah unggahan di platform X, ia menyebut harga perak berpotensi naik hingga US$ 200 per ons troi.
Namun, pada akhir Desember lalu, ia juga memperingatkan kemungkinan terjadinya koreksi besar terlebih dahulu.
“Crash karena FOMO akan datang,” tulis Kiyosaki. “Jika Anda berencana berinvestasi di perak, bersabarlah. Tunggu sampai terjadi crash, lalu tentukan masuk atau tidak. Saya percaya perak akan menembus US$ 100 pada 2026… bahkan mungkin US$ 200 per ons. Tapi ingat pelajaran Rich Dad saya: ‘Keuntungan dibuat saat membeli, bukan saat menjual.’”
Bagi Kiyosaki, koreksi harga tersebut justru bisa menjadi momentum masuk kembali ke pasar perak.
Tonton: Industri Rokok Nilai Wacana Kemasan Polos Ancam Merek, Investasi, dan Lapangan Kerja
Kesimpulan
Kasus Robert Kiyosaki menunjukkan bahwa keputusan switching asset berbasis narasi makro dan keyakinan pribadi tidak selalu menghasilkan timing yang tepat. Saat Bitcoin gagal memenuhi ekspektasi agresifnya, perak justru mencatatkan reli tajam, menegaskan bahwa pasar sering bergerak di luar prediksi figur populer. Pelajaran utamanya bukan soal siapa aset yang “benar”, melainkan risiko overconfidence, FOMO, dan kesalahan timing, bahkan bagi investor kawakan, serta pentingnya disiplin valuasi dan manajemen risiko ketimbang mengikuti proyeksi harga ekstrem.
Selanjutnya: Gebrakan RATU di Sektor Hulu, Siap Raup Cuan dari Husky-CNOOC Madura Limited
Menarik Dibaca: Jadwal Malaysia Open 2026, Satu Wakil Indonesia Berlaga Hari Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













