kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.023.000   -45.000   -1,47%
  • USD/IDR 16.823   -17,00   -0,10%
  • IDX 8.322   41,40   0,50%
  • KOMPAS100 1.169   5,71   0,49%
  • LQ45 843   5,44   0,65%
  • ISSI 297   2,30   0,78%
  • IDX30 446   4,50   1,02%
  • IDXHIDIV20 535   5,84   1,10%
  • IDX80 130   0,54   0,41%
  • IDXV30 146   2,84   1,99%
  • IDXQ30 144   1,31   0,92%
GLOBAL /

Emas US$ 6.000: Kenapa Analis Percaya Rekor Baru Akan Segera Terpecahkan?


Kamis, 26 Februari 2026 / 04:07 WIB
Emas US$ 6.000: Kenapa Analis Percaya Rekor Baru Akan Segera Terpecahkan?
ILUSTRASI. Harga emas kembali menguat pada Rabu (waktu setempat) seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak tarif impor terhadap inflasi. (REUTERS/Dado Ruvic)

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Harga emas kembali menguat pada Rabu (waktu setempat) seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak tarif impor terhadap inflasi. Ketegangan yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran juga membuat pelaku pasar memburu aset safe haven.

Melansir Reuters, harga emas spot naik 1,1% ke level US$ 5.202,28 per ons pada pukul 14.00 ET (1900 GMT). Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman April ditutup menguat sekitar 1% ke posisi US$ 5.226,20 per ons.

Kenaikan ini dipicu kekhawatiran bahwa kebijakan tarif dapat mendorong inflasi semakin tinggi, apalagi di tengah lonjakan harga minyak dan potensi eskalasi konflik geopolitik.

“Kenaikan tarif dan harga minyak berpotensi memicu tekanan inflasi, terutama jika serangan benar-benar terjadi. Investor juga kemungkinan melakukan lindung nilai dengan beralih ke emas,” ujar Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy TD Securities.

Pemerintah AS mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10% pada Selasa. Namun, seorang pejabat Gedung Putih menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mengupayakan kenaikan tarif tersebut menjadi 15%.

Baca Juga: Harga Emas Merosot 1,4%, Cek 2 Faktor Penekan Utamanya!

Dalam pidato kenegaraannya, Trump mengatakan hampir semua negara dan korporasi ingin mempertahankan perjanjian tarif serta investasi yang sudah ada dengan Washington. Ia juga menegaskan tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, sekaligus membuka kemungkinan serangan terhadap negara tersebut.

Di sisi lain, Iran dan AS dijadwalkan menggelar putaran ketiga perundingan nuklir pada Kamis di Jenewa.

Sebagai aset lindung nilai, emas kerap menjadi pilihan utama saat ketidakpastian meningkat. Selain diuntungkan oleh lingkungan suku bunga rendah, emas juga dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi.

Sebelumnya, harga emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 5.594,82 pada 29 Januari. Secara year-to-date, harga emas telah melonjak sekitar 20%.

Meski demikian, Bank of America menilai laju penambahan posisi investor di emas mulai melambat. Hal ini membuka peluang fase konsolidasi harga dalam beberapa bulan ke depan. Namun, ketidakpastian tarif yang kembali mencuat dinilai bisa memperpendek periode pelemahan tersebut.

Tonton: Harga Emas Antam Redup ini (25 Februari 2026)

BofA memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$ 6.000 per ons dalam 12 bulan ke depan.

Tak hanya emas, harga perak spot juga melonjak 3,9% ke US$ 90,73 per ons, tertinggi dalam tiga minggu terakhir. Pada 29 Januari lalu, perak sempat mencetak rekor di level US$ 121,64 per ons.

BofA menilai logam mulia “putih” tersebut berpeluang kembali menembus US$ 100 per ons tahun ini.

Sementara itu, platinum naik 7,1% ke US$ 2.320,90 per ons, level tertinggi sejak 29 Januari. Palladium turut menguat 2,6% ke US$ 1.814,41 per ons.

Selanjutnya: Prakiraan Cuaca Jabodetabek Hari Ini (26/2): Aktivitas Lancar Jika Tahu Prediksi Ini

Menarik Dibaca: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Pontianak Hari Ini Kamis 26 Februari 2026 Lengkap

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

×