Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga kontrak berjangka gas alam Amerika Serikat turun sekitar 4% ke level terendah dalam sepekan pada Kamis (23/4/2026). Kondisi ini terjadi setelah laporan menunjukkan kenaikan persediaan (storage) lebih besar dari perkiraan, serta ekspektasi bahwa perusahaan energi akan terus memasukkan lebih banyak gas ke penyimpanan dibanding biasanya dalam beberapa pekan ke depan.
Mengutip Reuters, setelah naik selama enam hari berturut-turut, kontrak berjangka gas alam bulan depan untuk pengiriman Mei di New York Mercantile Exchange turun 10,8 sen atau 4,0%, dan ditutup di US$ 2,614 per mmBtu. Ini merupakan penutupan terendah sejak 15 April.
Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan perusahaan energi menambahkan 103 miliar kaki kubik (bcf) gas ke penyimpanan pada pekan yang berakhir 17 April.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan 94 bcf, serta lebih besar dibanding kenaikan 77 bcf pada periode yang sama tahun lalu. Angka itu juga jauh di atas rata-rata kenaikan lima tahun (2021–2025) sebesar 64 bcf.
Para analis sebelumnya memperkirakan kenaikan stok pekan lalu akan lebih besar dari biasanya karena cuaca yang lebih hangat membuat permintaan pemanas (heating) rendah, sehingga lebih banyak gas masuk ke penyimpanan.
Di pasar spot, harga rata-rata di Waha Hub, West Texas, tetap berada di wilayah negatif selama 54 hari berturut-turut (rekor), karena keterbatasan pipa masih menjebak pasokan gas di wilayah Permian, kawasan shale penghasil minyak terbesar di AS.
Baca Juga: Iran vs AS Makin Panas: Trump Ancam Tenggelamkan Kapal Penebar Ranjau, Minyak Melejit
Harga harian Waha pertama kali rata-rata jatuh di bawah nol pada 2019. Saat itu terjadi 17 kali pada 2019, enam kali pada 2020, sekali pada 2023, 49 kali pada 2024, 39 kali pada 2025, dan sudah mencapai rekor 63 kali sejauh tahun ini.
Harga Waha rata-rata berada di level negatif US$ 1,91 per mmBtu sepanjang 2026, dibanding rata-rata positif US$ 1,15 pada 2025 dan rata-rata positif US$ 2,88 dalam lima tahun terakhir (2021–2025).
Pasokan dan Permintaan
LSEG menyebut produksi gas rata-rata di wilayah Lower 48 AS melemah menjadi 110,3 miliar kaki kubik per hari (bcfd) sepanjang April, turun tipis dari 110,4 bcfd pada Maret.
Angka itu dibandingkan dengan rekor bulanan tertinggi sebesar 110,7 bcfd pada Desember 2025.
Secara harian, produksi diperkirakan turun sekitar 3,8 bcfd selama 17 hari terakhir menuju level sementara 108,3 bcfd pada Kamis, yang merupakan titik terendah dalam 11 pekan. Namun data awal ini sering direvisi kemudian.
Ke depan, ahli meteorologi memperkirakan cuaca akan cenderung mendekati normal hingga 8 Mei.
LSEG memperkirakan permintaan gas rata-rata di Lower 48 AS, termasuk ekspor, akan turun dari 103,7 bcfd pekan ini menjadi 100,5 bcfd pekan depan. Proyeksi tersebut tidak jauh berbeda dari perkiraan LSEG pada Rabu.
Sementara itu, aliran gas rata-rata menuju sembilan fasilitas ekspor LNG besar di AS meningkat menjadi 18,9 bcfd sepanjang April, naik dari 18,6 bcfd pada Maret. Angka itu mendekati rekor bulanan tertinggi sebesar 18,7 bcfd pada Februari.
Tonton: 36 Jam Menuju Damai AS Iran Siap Berunding Lagi di Tengah Ketegangan
Kapal tanker pertama juga telah berangkat dari fasilitas ekspor LNG Golden Pass milik QatarEnergy/ExxonMobil berkapasitas 2,4 bcfd di Texas pada Rabu, membawa kargo perdana dari fasilitas yang sudah mulai beroperasi dan masih dalam tahap pembangunan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













