Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melonjak sekitar 2% pada perdagangan Kamis dan ditutup di level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar atas meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang memperkuat aktivitas militer di kawasan Timur Tengah penghasil minyak.
Data Reuters menunjukkan, kontrak berjangka Brent ditutup naik US$ 1,31 atau 1,9% ke level US$ 71,66 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 1,24 atau 1,9% ke posisi US$ 66,43 per barel.
Setelah sempat melesat lebih dari 4% pada Rabu, Brent mencatatkan penutupan tertinggi sejak 31 Juli, sedangkan WTI menjadi yang tertinggi sejak 1 Agustus.
Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow mengatakan harga minyak terdorong oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran bahwa AS dapat melancarkan serangan terhadap Iran dalam waktu dekat.
“Pasar akan terus reli karena mengantisipasi sesuatu yang mungkin terjadi,” ujarnya.
Media semi-resmi Iran, Fars, melaporkan bahwa Teheran berencana menggelar latihan angkatan laut bersama Rusia. Latihan ini berlangsung beberapa hari setelah Iran sempat menutup Selat Hormuz selama beberapa jam untuk keperluan latihan militer.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global, dengan sekitar 20% pasokan minyak dunia melintasi wilayah tersebut.
Baca Juga: Peringatan Trump ke Iran: Negosiasi Nuklir Bisa Berakhir Bencana
Trump Beri Ultimatum ke Iran
Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya atau akan menghadapi konsekuensi serius. Ia memberi sinyal tenggat waktu sekitar 10 hari sebelum AS kemungkinan mengambil langkah lanjutan.
AS telah mengerahkan kapal induk, kapal perang, dan jet tempur ke kawasan tersebut. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Washington tengah mempertimbangkan apakah akan melanjutkan jalur diplomasi dengan Teheran atau memilih opsi lain.
Iran juga mengeluarkan pemberitahuan kepada penerbang terkait rencana peluncuran roket di sejumlah wilayah selatan negara itu, menurut situs Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA). Beberapa negara bahkan telah meminta warganya meninggalkan Iran.
Baca Juga: Peringatan IMF, Surplus China Bawa Risiko Dagang Global
Faktor Fundamental Ikut Mengerek Harga
Dari sisi pasokan, ekspor minyak mentah Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, turun menjadi 6,988 juta barel per hari, level terendah sejak September, berdasarkan data Joint Organizations Data Initiative (JODI).
Sebelumnya, Reuters melaporkan kelompok produsen OPEC+ cenderung melanjutkan rencana peningkatan produksi minyak mulai April.
Di sisi lain, pembicaraan damai dua hari antara Ukraina dan Rusia di Jenewa berakhir tanpa terobosan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menuduh Moskow memperlambat upaya yang dimediasi AS untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung empat tahun.
Dari Amerika Serikat, stok minyak mentah dilaporkan turun 9 juta barel seiring meningkatnya utilisasi kilang dan ekspor. Angka ini berlawanan dengan ekspektasi pasar dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan stok sebesar 2,1 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Februari.
Tonton: Eskalasi Besar! F-35 & F-22 Dikerahkan ke Dekat Iran, Perang di Depan Mata?
Persediaan bensin dan distilat juga turun pekan lalu karena permintaan konsumen yang lebih tinggi.
Analis senior Price Futures Group Phil Flynn menyebut penurunan stok terjadi setelah sebelumnya terjadi kenaikan akibat gangguan cuaca badai.
“Kita melihat pasar yang solid dengan permintaan yang kuat. Itu akan menopang harga setidaknya hingga akhir sesi perdagangan,” ujarnya.
Selanjutnya: Jelang Libur Akhir Pekan, IHSG Ambrol, Rupiah Ambruk, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Kabupaten Karanganyar 2026: Panduan Lengkap Ibadah, Catat yuk
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)