kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.921   19,00   0,11%
  • IDX 7.217   -85,37   -1,17%
  • KOMPAS100 1.001   -12,56   -1,24%
  • LQ45 739   -7,86   -1,05%
  • ISSI 253   -4,47   -1,74%
  • IDX30 402   -4,65   -1,14%
  • IDXHIDIV20 502   -7,82   -1,53%
  • IDX80 113   -1,24   -1,09%
  • IDXV30 137   -0,89   -0,64%
  • IDXQ30 131   -1,86   -1,40%
GLOBAL /

Harga Minyak Dunia Menguat, Ketidakpastian Gencatan Senjata Timur Tengah Jadi Pemicu


Kamis, 26 Maret 2026 / 09:38 WIB
Harga Minyak Dunia Menguat, Ketidakpastian Gencatan Senjata Timur Tengah Jadi Pemicu
ILUSTRASI. Harga minyak mentah Brent dan WTI naik tipis. Pasar skeptis terhadap prospek perdamaian Iran-AS dan gangguan pasokan Rusia. Cek detailnya. (REUTERS/Abdul Saboor)

Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Harga minyak dunia kembali mencatatkan kenaikan pada perdagangan hari ini setelah investor melakukan penilaian ulang terhadap prospek de-eskalasi konflik di Timur Tengah.

Optimisme mengenai gencatan senjata perlahan memudar seiring dengan sikap Iran yang menyatakan belum memiliki niat untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut, meskipun tengah meninjau proposal dari Amerika Serikat (AS).

Kondisi ini membuat pasar energi kembali bergejolak di tengah ancaman gangguan distribusi minyak mentah global yang semakin nyata.

Baca Juga: CEO Freeport LNG Michael Smith: Perang Iran Bisa Gagalkan Proyek Gas Baru di AS

Detail Pergerakan Harga dan Fakta Pasar

Berdasarkan data perdagangan pada Kamis (26/3), harga minyak mentah menunjukkan pemulihan dari kerugian yang dialami pada hari sebelumnya.

Melansir laporan dari Reuters, harga minyak mentah berjangka jenis Brent naik sebesar US$ 1,13 atau sekitar 1,1% menjadi US$ 103,35 per barel.

Jika dikonversi dengan kurs hari ini Rp 16.811 per US$, harga Brent berada di kisaran Rp 1.737.416 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga ikut terangkat naik sebesar US$ 1,08 atau 1,2% ke level US$ 91,40 per barel atau setara Rp 1.536.525 per barel.

Kenaikan ini terjadi setelah kedua tolok ukur harga minyak tersebut sempat merosot lebih dari 2% pada perdagangan Rabu kemarin.

Gejolak harga ini dipicu oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Iran yang menyebutkan bahwa Teheran tidak memiliki niat untuk mengadakan pembicaraan guna mengakhiri konflik Timur Tengah yang terus meluas.

Padahal, pihak Gedung Putih melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt telah memperingatkan bahwa Presiden Donald Trump akan memberikan tekanan lebih keras jika Iran gagal menerima kenyataan bahwa mereka telah "kalah secara militer".

Kondisi geopolitik yang memanas ini diperparah dengan beberapa poin dalam 15 proposal AS yang dirasa sulit diterima oleh Iran, antara lain:

  • Penghapusan stok uranium yang sangat diperkaya milik Iran.
  • Penghentian total program pengayaan uranium.
  • Pembatasan program rudal balistik.
  • Pemutusan pendanaan bagi sekutu regional Iran di Timur Tengah.

Baca Juga: Meta dan Google Kalah di Pengadilan AS, Mark Zuckerberg Beri Kesaksian

Gangguan Pasokan Global dari Rusia hingga Irak

Selain faktor Timur Tengah, pasokan minyak global juga terancam oleh lumpuhnya kapasitas ekspor minyak Rusia.

Mengutip perhitungan Reuters berdasarkan data pasar, setidaknya 40% dari kapasitas ekspor minyak Rusia terhenti.

Hal ini merupakan dampak dari serangan pesawat tak berawak (drone) oleh Ukraina, serangan terhadap pipa utama, hingga penyitaan sejumlah kapal tanker.

Di sisi lain, produksi minyak Irak juga dilaporkan merosot tajam. Tiga pejabat energi Irak menyatakan bahwa tangki penyimpanan minyak telah mencapai tingkat kritis.

Hal ini menjadi sinyal buruk bagi pemenuhan permintaan global, mengingat posisi Irak sebagai salah satu produsen utama di organisasi OPEC.

Konflik yang berkepanjangan ini hampir menghentikan seluruh pengiriman melalui Selat Hormuz. Jalur ini sangat krusial karena biasanya membawa sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.

International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut situasi ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah.

Data Stok Minyak AS dan Langkah Strategis Jepang

Di tengah kekhawatiran pasokan global, data dari Amerika Serikat menunjukkan adanya kenaikan stok minyak mentah domestik yang cukup signifikan.

Persediaan minyak AS meningkat sebesar 6,9 juta barel menjadi total 456,2 juta barel untuk pekan yang berakhir 20/3.

Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Juni 2024 dan jauh melampaui ekspektasi para analis yang sebelumnya hanya memprediksi kenaikan sebesar 477.000 barel.

Merespons ketidakpastian ini, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dilaporkan telah meminta Direktur IEA Fatih Birol untuk melakukan pelepasan cadangan minyak tambahan secara terkoordinasi.

Langkah ini diambil Tokyo sebagai upaya lindung nilai terhadap dampak jangka panjang dari konflik Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Di sisi lain, terdapat dinamika unik di pasar Asia di mana India baru saja membeli kargo pertama gas petroleum cair (LPG) dari Iran setelah sekian tahun.

Transaksi ini dimungkinkan setelah AS menghapus sanksi sementara terhadap minyak dan bahan bakar olahan Teheran, yang menunjukkan betapa cairnya peta kekuatan energi global saat ini.

Tonton: Respons Gejolak Energi, Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi Baru

Memahami Dampak Harga Minyak terhadap Investasi

Fluktuasi harga minyak dunia yang berada di atas level US$ 100 per barel memiliki dampak berantai terhadap ekonomi makro dan instrumen investasi.

Berikut adalah beberapa poin edukasi investasi terkait komoditas minyak:

  • Inflasi dan Suku Bunga: Kenaikan harga minyak sering kali memicu inflasi karena meningkatnya biaya transportasi dan produksi barang. Jika inflasi melonjak, bank sentral cenderung mempertahankan atau menaikkan suku bunga, yang dapat menekan pasar saham secara keseluruhan.
  • Saham Sektor Energi: Bagi investor, penguatan harga minyak biasanya menjadi katalis positif bagi saham-saham emiten pertambangan minyak dan gas. Pendapatan perusahaan di sektor ini cenderung meningkat seiring dengan margin keuntungan yang melebar.
  • Dampak pada Rupiah: Sebagai negara importir minyak (net importer), kenaikan harga minyak dunia dapat membebani neraca perdagangan Indonesia dan memberikan tekanan depresiasi terhadap nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
  • Instrumen Komoditas: Investor dapat mempertimbangkan diversifikasi portofolio melalui kontrak berjangka komoditas atau Exchange Traded Funds (ETF) yang berbasis energi untuk melakukan lindung nilai terhadap risiko inflasi.

Mengingat tingginya volatilitas pasar saat ini, pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap setiap rilis data cadangan minyak mingguan dan perkembangan diplomasi di Timur Tengah yang dapat mengubah arah harga dalam waktu singkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

×