Sumber: The Straits Times | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Dengan 10 klaster baru tuberkulosis (TB) dilaporkan di Malaysia hingga 7 Februari, para ahli mengimbau masyarakat yang bepergian selama musim liburan untuk meningkatkan kewaspadaan.
Profesor Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat Universiti Malaya, Rafdzah Ahmad Zaki mengimbau, masyarakat disarankan mengenakan masker saat bepergian dan segera mencari perawatan medis jika mengalami gejala.
“Jika Anda sedang tidak sehat, sebaiknya tidak bepergian. Namun karena ini musim perayaan, banyak yang ingin balik kampung dan bertemu keluarga. Jadi jika Anda memiliki gejala, sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri,” ujarnya seperti yang dilansir The Straits Times.
“Hal lain yang penting adalah memakai masker untuk mencegah penyebaran bakteri atau virus, terutama di transportasi umum. Ini bukan hanya soal TB, tetapi juga berbagai penyakit menular lainnya,” tambahnya.
Dr Rafdzah juga menyarankan masyarakat untuk membuka pintu dan jendela saat ada acara berkumpul, guna memastikan sirkulasi udara yang baik.
Ia menjelaskan bahwa karena TB merupakan penyakit menular dengan masa inkubasi yang panjang, penyakit ini dapat terus menyebar jika penularan tidak dikendalikan.
“Ketika satu kasus terdeteksi, kami melakukan skrining yang lebih aktif, sehingga lebih banyak kasus ditemukan,” katanya, seraya menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat.
Presiden Federation of Private Medical Practitioners Associations Malaysia, Dr Shanmuganathan T.V. Ganeson, mengatakan bahwa Medical Examination Monitoring Agency memiliki peran penting dalam skrining TB.
Baca Juga: Mengapa Wabah Virus Nipah di India Membuat Dunia Waspada?
“Ini adalah lapisan penting dalam kesehatan masyarakat yang membantu mendeteksi kasus lebih dini dan menghubungkan individu dengan layanan pengobatan. Pengendalian TB akan berjalan paling efektif jika semua orang di negara ini — baik warga negara maupun bukan — memiliki akses ke skrining dan pengobatan,” ujarnya.
“Setiap celah dalam akses, cakupan, atau keengganan untuk mencari perawatan dapat menciptakan titik buta dalam pengendalian penyakit menular,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa pengobatan TB harus diselesaikan tanpa terputus.
“Pengendalian TB paling efektif ketika pasien dapat menyelesaikan pengobatan tanpa gangguan. Jika pengobatan terhenti, ada risiko penularan berlanjut dan munculnya resistansi obat,” katanya.
Dr Shanmuganathan juga menjelaskan bahwa tidak semua TB menyerang paru-paru. TB ekstra-paru dapat menyerang kelenjar getah bening, tulang, sendi, tulang belakang, dan organ lainnya.
Bentuk TB ini umumnya tidak menular karena tidak melibatkan saluran pernapasan.
“Risiko penularan terutama muncul pada TB paru aktif, di mana bakteri dapat dilepaskan ke udara. Perbedaan ini penting untuk mengurangi ketakutan atau stigma yang tidak perlu, karena seseorang dengan TB ekstra-paru saja biasanya tidak menimbulkan risiko penularan kepada orang lain,” jelasnya.
Tonton: Kelas Menengah Waspada! Pajak Konglomerat Justru Dilonggarkan
Pekan lalu, dilaporkan bahwa 33 kasus TB terdeteksi di Kota Tinggi, Johor, dengan seluruh pasien saat ini sedang menjalani pengobatan.
Menteri Kesehatan Malaysia, Datuk Seri Dzulkefly Ahmad, mengatakan kepada parlemen (Dewan Rakyat) bahwa Selangor mencatat empat klaster TB, sementara satu klaster besar juga teridentifikasi di Johor.
Selanjutnya: Muamalat Bidik Pembiayaan KPR Secara Digital
Menarik Dibaca: Cek Arah Hadap Rumah yang Ideal di Indonesia dan Dampaknya pada Berbagai Hal
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













