Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah dunia kembali mendidih pada perdagangan Selasa (17/3). Kenaikan harga ini dipicu oleh kecemasan pasar terhadap seretnya pasokan energi global menyusul penutupan sebagian besar akses di Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent melompat US $2.48 atau naik sekitar 2.5% menuju level US$102.69 per barel pada pukul 00.58 GMT. Jika dikonversi dengan kurs Rp16.978, harga minyak Brent kini setara dengan Rp1.743.470 per barel.
Baca Juga: Trump Galang Koalisi Amankan Selat Hormuz, Harga Minyak Tergelincir
Pada saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) ikut terangkat US$2.42 atau menguat 2.6% ke posisi US$95.92 per barel, atau sekitar Rp1.628.530 per barel.
Lonjakan ini sekaligus menyapu bersih kerugian yang terjadi pada sesi sebelumnya.
Sebagai catatan, pada perdagangan Senin kemarin, harga Brent sempat melemah 2.8% sementara WTI ambles 5.3% lantaran pasar sempat optimistis setelah beberapa kapal tanker dilaporkan berhasil melintasi jalur pelayaran maut tersebut.
Ketegangan di Titik Sumbu Energi Dunia
Kondisi Selat Hormuz kini menjadi pusat perhatian pelaku pasar keuangan dan komoditas global.
Maklum saja, jalur sempit ini menjadi perlintasan bagi sekitar 20% total perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Namun, arus distribusi ini terganggu parah setelah perang antara pihak AS-Israel melawan Iran memasuki pekan ketiga.
Situasi makin pelik karena ajakan Presiden AS Donald Trump untuk membentuk pengawalan militer bagi kapal-kapal tanker justru ditolak oleh sejumlah negara sekutunya.
Penolakan ini sempat memicu reaksi keras dari Gedung Putih yang menuding para mitra Barat kurang memberikan dukungan nyata di tengah krisis.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, mengingatkan bahwa risiko gangguan pasokan masih sangat tinggi dan sulit diprediksi.
"Cukup satu serangan rudal dari milisi Iran atau pemasangan ranjau pada tanker yang melintas, maka seluruh situasi keamanan di sana akan kembali meledak," tuturnya dalam sebuah catatan resmi.
Baca Juga: Siapa Peter Thiel? Miliarder Pendukung Trump yang Bikin Vatikan Gelisah
Di sisi lain, upaya diplomasi terus diupayakan untuk mengurai kemacetan logistik ini. Iran dikabarkan tengah bernegosiasi dengan India untuk pembebasan tiga kapal tanker yang disita pada Februari 2026.
Langkah ini merupakan bagian dari kesepakatan untuk menjamin jalur aman bagi kapal berbendera India agar bisa keluar dari kawasan Teluk.
Produksi Terpangkas dan Intervensi Cadangan
Dampak penutupan jalur laut ini sudah mulai terasa pada angka produksi minyak di Timur Tengah.
Uni Emirat Arab (UEA), yang merupakan produsen terbesar ketiga di organisasi OPEC, terpaksa memangkas produksinya secara drastis.
Berdasarkan data yang dikutip oleh Reuters, output minyak UEA anjlok hingga lebih dari separuh kapasitas normal karena sulitnya mengirimkan minyak ke luar kawasan.
Guna mencegah lonjakan inflasi akibat harga energi yang makin mahal, Badan Energi Internasional (IEA) mulai menyiapkan langkah antisipasi.
Pimpinan IEA menyarankan agar negara anggota segera melepas lebih banyak cadangan minyak strategis ke pasar.
Langkah ini akan melengkapi kebijakan penarikan 400 juta barel minyak yang sebelumnya sudah disepakati oleh negara-negara konsumen utama.
Ramalan Harga Minyak di Tahun 2026
Melihat ketegangan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sejumlah bank investasi dunia mulai mengoreksi proyeksi harga minyak untuk sepanjang tahun 2026.
Tonton: Harga Emas Antam Kembali Tergerus Hari ini (17 Maret 2026)
Berikut adalah rincian revisi target harga minyak dari beberapa lembaga keuangan:
- Bank of America (BofA): Menaikkan proyeksi harga Brent tahun 2026 menjadi rata-rata US $77.50 per barel (sekitar Rp1.315.795), jauh di atas perkiraan lama yang hanya US$61 per barel.
- Standard Chartered: Mengerek prediksi harga ke posisi US$85.50 per barel (sekitar Rp1.451.619) dari estimasi sebelumnya di level US$70 per barel.
BofA menilai ada dua skenario besar yang akan dihadapi pasar. Skenario pertama, jika konflik selesai cepat pada April 2026, harga Brent kemungkinan stabil di kisaran US$70 per barel (Rp1.188.460).
Skenario kedua, apabila gangguan berlanjut hingga kuartal kedua, harga minyak sangat berpotensi merangkak naik menuju US$85 per barel (Rp1.443.130) atau bahkan lebih.
Hingga saat ini, pihak militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka telah menyiapkan rencana operasi militer untuk setidaknya tiga minggu ke depan. Selama eskalasi militer masih terjadi, harga minyak dunia diprediksi tetap akan bergerak liar di jalur hijau.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













