Sumber: Reuters | Editor: Tiyas Septiana
KONTAN.CO.ID - Raksasa perbankan investasi Wall Street, Morgan Stanley (MS.N), berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi analis pada Rabu (15/4).
Pertumbuhan laba ini ditopang oleh lonjakan aktivitas transaksi korporasi (dealmaking) serta rekor pendapatan dari lini bisnis perdagangan saham (equities trading), yang langsung mendorong harga saham perusahaan naik sekitar 5%.
Kondisi pasar global yang diwarnai volatilitas ekstrem akibat perang Iran dan aksi jual sektor perangkat lunak justru memberikan keuntungan bagi bank-bank besar di Amerika Serikat.
Baca Juga: Bos UBS Sergio Ermotti Berpotensi Jabat CEO Hingga 2027, Ini Alasannya
Morgan Stanley menutup rangkaian laporan keuangan kuartal pertama yang kuat di sektor perbankan, menyusul kesuksesan kompetitor utamanya seperti Goldman Sachs, JPMorgan, Citigroup, dan Bank of America yang juga melaporkan lonjakan pendapatan serupa.
Rekor Pendapatan Lini Bisnis Utama
Berdasarkan data yang dibagikan Reuters pada Rabu (15/4), total pendapatan kuartalan Morgan Stanley melonjak ke rekor US$ 20,6 miliar atau setara Rp 352,81 triliun (kurs Rp 17.127) dari US$ 17,7 miliar pada tahun sebelumnya.
Laba per saham tercatat sebesar US$ 3,43, jauh melampaui angka US$ 3 yang diproyeksikan oleh para analis menurut data LSEG.
Mengutip laporan Reuters, pendapatan perbankan investasi Morgan Stanley melonjak 36% menjadi US$ 2,12 miliar. Kenaikan ini didorong oleh biaya konsultasi merger dan akuisisi (M&A) yang meningkat signifikan.
Melansir data Dealogic yang dibagikan Reuters, volume transaksi global telah mencapai US$ 1,38 triliun pada kuartal pertama tahun ini, setelah tahun 2025 yang hampir memecahkan rekor dengan nilai M&A global melampaui US$ 4,81 triliun.
Beberapa poin penting dalam kinerja operasional Morgan Stanley meliputi:
- Trading Saham: Mencetak rekor pendapatan sebesar US$ 5,15 miliar atau melonjak 25%.
- Fixed Income: Pendapatan melonjak 29% menjadi US$ 3,36 miliar akibat tingginya perdagangan komoditas di tengah volatilitas pasar energi.
- Wealth Management: Mencatatkan rekor pendapatan divisi sebesar US$ 8,5 miliar.
- Equity Underwriting: Pendapatan naik 24% menjadi US$ 396 juta.
- Debt Underwriting: Pendapatan naik 9,6% menjadi US$ 742 juta.
Salah satu transaksi monumental yang melibatkan Morgan Stanley dalam kuartal ini adalah perannya sebagai penasihat bagi Unilever dalam usulan penggabungan bisnis makanannya dengan McCormick.
Kesepakatan ini diprediksi akan menciptakan raksasa makanan global senilai US$ 65 miliar atau sekitar Rp 1.113,25 triliun.
Dampak Perang Iran dan Pasar IPO
Volatilitas pasar kelas aset global dalam beberapa pekan terakhir dipicu oleh perang Iran yang mengerek harga minyak dunia. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi untuk jangka waktu lebih lama.
Meskipun volatilitas menguntungkan meja perdagangan karena investor melakukan rebalancing portofolio dan hedging, pasar penawaran umum perdana (IPO) justru terdampak.
CFO Morgan Stanley, Sharon Yeshaya, menyatakan bahwa pasar IPO mengalami perlambatan di kuartal ini. Namun, ia memprediksi hanya akan terjadi penundaan transaksi dan bukan pembatalan total.
Perlambatan ini dibandingkan dengan jeda IPO setahun lalu saat pemerintahan Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru AS.
Saat ini, Morgan Stanley juga tengah menjadi salah satu pemimpin penjamin pelaksana emisi (bookrunner) untuk IPO jumbo SpaceX.
Perusahaan milik Elon Musk tersebut berpotensi menggalang dana hingga US$ 75 miliar (Rp 1.284,52 triliun) dengan potensi valuasi mencapai US$ 1,75 triliun atau setara Rp 29.972,25 triliun.
Tonton: Identitas Pencipta Bitcoin Terbongkar? Sosok Misterius Satoshi Nakamoto Diduga Adam Back!
Kondisi Industri Kredit Swasta
CEO Morgan Stanley, Ted Pick, menyoroti fenomena industri kredit swasta yang sedang menghadapi tantangan. Ia menyebut periode ini sebagai "masa pembelajaran" bagi sektor tersebut.
Paparan kredit swasta di Morgan Stanley sendiri tergolong rendah, yakni kurang dari 1% dari total aset yang dikelola, atau berada di bawah US$ 20 miliar (Rp 342,54 triliun).
Bulan lalu, Morgan Stanley membatasi penarikan dana (redemption) pada salah satu dana kredit swastanya setelah investor mencoba menarik hampir 11% saham yang beredar.
Banyak investor mulai waspada terhadap standar pemberian pinjaman dan paparan besar pada sektor perangkat lunak yang terancam oleh perkembangan AI. Meskipun ada gelombang penarikan, perusahaan tetap aktif bertindak sebagai penjamin emisi pada sejumlah penerbitan benchmark dalam sepekan terakhir.
Kinerja yang melampaui estimasi ini menunjukkan resiliensi model bisnis Morgan Stanley di tengah ketidakpastian geopolitik. Fokus perusahaan pada bisnis kekayaan (wealth management) untuk menghasilkan imbal hasil yang lebih stabil mulai membuahkan hasil, meskipun pendapatan manajemen investasi mengalami penurunan tipis 4,2% menjadi US$ 1,54 miliar.
Investor merespons positif pencapaian ini karena Morgan Stanley mampu memanfaatkan momentum volatilitas pasar global untuk mencatatkan rekor pendapatan perdagangan yang luar biasa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













