kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.843.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.921   -74,00   -0,44%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%
GLOBAL /

Negosiasi AS-Iran Amburadul, Harga Minyak Dunia Makin Mencekam


Rabu, 25 Maret 2026 / 03:36 WIB
Negosiasi AS-Iran Amburadul, Harga Minyak Dunia Makin Mencekam
ILUSTRASI. Sinyal damai AS-Iran amburadul, pasar minyak mencerna risiko perang. (REUTERS/Christian Hartmann)

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Harga minyak melonjak pada Selasa (24/3/2026) seiring gangguan pasokan terbesar masih berlangsung. Iran juga membantah telah melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk, bertolak belakang dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut kesepakatan bisa segera tercapai.

Data Reuters menunjukkan, Harga minyak mentah Brent ditutup naik US$ 4,55 atau 4,55% ke level US$ 104,49 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak US$ 4,22 atau 4,79% menjadi US$ 92,35 per barel.

Perang ini hampir sepenuhnya menghentikan sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melalui Selat Hormuz. Kondisi tersebut disebut International Energy Agency sebagai gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah.

“Situasi di lapangan belum berubah. Selat Hormuz pada dasarnya masih tertutup dan gangguan pasokan terus berlanjut, sehingga memperketat pasar,” ujar Nikos Tzabouras, analis di platform Tradu.com yang dimiliki Jefferies.

Pada Selasa, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke Israel. Tiga pejabat senior Israel, yang berbicara secara anonim, menilai Trump memang ingin mencapai kesepakatan, tetapi kecil kemungkinan Iran akan menyetujui tuntutan AS dalam negosiasi baru.

Baca Juga: Perang AS-Iran Terus Berlanjut, Jadi Kabar Buruk Buat Emas

Analis riset Global X, Kenny Zhu, mengatakan peluang gangguan pengiriman yang awalnya bersifat sementara bisa berubah menjadi disrupsi jangka panjang semakin besar jika konflik terus berlanjut. Ia juga menilai proyeksi energi global kini bergeser dari potensi kelebihan pasokan menjadi ancaman defisit.

Sinyal campuran soal perdamaian

Perdana Menteri Pakistan pada Selasa menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah pembicaraan antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik di Teluk.

Pernyataan itu muncul sehari setelah Trump menunda rencana serangan terhadap fasilitas listrik Iran selama lima hari. Ia mengklaim pembicaraan dengan pihak Iran menghasilkan “poin-poin kesepakatan besar”, yang sempat membuat harga minyak turun lebih dari 10%.

Namun, Iran membantah telah melakukan negosiasi dengan AS.

“Kita jelas melihat sinyal yang saling bertentangan. Pasar tampaknya memperhitungkan risiko bahwa pembicaraan ini tidak akan berjalan baik dan perang akan terus berlanjut,” kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group.

Tonton: Bocorkan Rahasia Iron Dome ke Iran! Tentara Israel Ditangkap

Sumber Reuters menyebut sikap negosiasi Iran semakin mengeras sejak perang dimulai. Iran disebut akan meminta konsesi besar dari AS jika mediasi berujung pada perundingan serius.

Jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga akhir April, harga minyak Brent berpotensi menembus US$ 150 per barel, menurut Macquarie. Angka ini akan melampaui rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 147 per barel yang terjadi pada 2008.

Dalam serangan terbaru terhadap infrastruktur energi di kawasan, kantor perusahaan gas dan fasilitas pengurang tekanan diserang di kota Isfahan, Iran. Selain itu, proyektil juga menghantam pipa gas yang memasok pembangkit listrik di Khorramshahr, menurut laporan kantor berita Fars.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

×