Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - KYIV. Rusia melancarkan serangan besar-besaran menggunakan rudal dan drone ke berbagai wilayah Ukraina pada Kamis (28/8/2025) dini hari, menewaskan sedikitnya 23 orang di ibu kota Kyiv.
Serangan ini disebut sebagai salah satu yang paling mematikan sejak invasi penuh Rusia pada Februari 2022.
Kepala administrasi militer Kyiv, Tymur Tkachenko, mengatakan korban jiwa masih bisa bertambah karena operasi penyelamatan masih berlangsung hingga malam hari.
Wali Kota Vitali Klitschko menggambarkan gempuran ini sebagai salah satu serangan terbesar terhadap Kyiv dalam beberapa bulan terakhir, dengan 63 orang terluka dan bangunan di seluruh distrik kota mengalami kerusakan.
Baca Juga: Ekonomi Rusia Tidak Baik-Baik Saja, Ini Buktinya
Target Sipil dan Kantor Diplomatik
Utusan khusus AS untuk Ukraina, Keith Kellogg, menilai serangan tersebut merusak upaya perdamaian Presiden Donald Trump.
“Sasarannya bukan tentara, melainkan kawasan permukiman di Kyiv, kereta penumpang, kantor misi Uni Eropa dan Inggris, serta warga sipil tak berdosa,” tulis Kellogg di X.
Selain kantor UE dan Inggris, Presiden Volodymyr Zelenskiy menyebut serangan juga menghantam perusahaan asal Turki serta gedung kedutaan Azerbaijan. Tidak ada laporan korban di lokasi misi diplomatik.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengutuk keras serangan yang merusak gedung British Council.
“Putin membunuh anak-anak dan warga sipil, sekaligus menghancurkan harapan perdamaian,” ujarnya.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan serangan ini menjadi “pengingat suram” akan ancaman Rusia.
Ia mengatakan UE segera menyiapkan paket sanksi ke-19 terhadap Moskow dan mempercepat rencana penggunaan aset Rusia yang dibekukan untuk membantu Ukraina.
Baca Juga: Upaya Perdamaian Trump dengan Putin Gagal Hasilkan Terobosan
Respons Ukraina dan Sekutu
Zelenskiy menilai serangan ini merupakan jawaban Rusia atas upaya diplomatik untuk mengakhiri perang.
“Rusia memilih rudal balistik ketimbang meja perundingan,” katanya, seraya menyerukan sanksi baru terhadap Moskow.
Trump, melalui juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, menyebut dirinya “tidak terkejut” dengan serangan itu meski kecewa.
“Mungkin kedua pihak memang belum siap mengakhiri perang sendiri,” katanya.
Serangan terjadi kurang dari dua minggu setelah Trump menggelar pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska.
Pertemuan itu diharapkan dapat membuka jalan bagi perdamaian, namun serangan terbaru memperlihatkan lemahnya prospek negosiasi.
Baca Juga: Serangan Drone dan Rudal Rusia di Kyiv Tewaskan Delapan Orang
Laporan Militer
Militer Ukraina menyebut sistem pertahanan udara berhasil menembak jatuh 563 dari hampir 600 drone dan 26 dari 31 rudal yang ditembakkan Rusia di seluruh negeri.
Namun, serangan tetap menghantam 13 lokasi, termasuk fasilitas energi yang menyebabkan pemadaman listrik, menurut operator jaringan listrik nasional Ukrenergo.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan hanya menargetkan fasilitas industri militer dan pangkalan udara Ukraina.
Kremlin menegaskan masih terbuka untuk pembicaraan damai, meski Kyiv menuduh Moskow secara konsisten menyerang kawasan padat penduduk.
Ukraina juga melaporkan keberhasilan drone mereka menghantam kilang minyak Afipsky dan Kuybyshevskyi di wilayah Rusia.
Selanjutnya: Aksi Massa Di Mako Brimob, Rute TransJakarta Dialihkan, Cek Jadwal & Rute Terdampak
Menarik Dibaca: Promo JSM Indomaret Periode 29-31 Agustus 2025, Pepsodent-Frisian Flag Diskon 25%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News