Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga minyak turun hampir 7% pada Senin (25/5/2026) karena optimisme meningkat bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan damai yang akan membuka kembali Selat Hormuz, meskipun Washington dan Teheran meredam harapan akan tercapainya terobosan dalam waktu dekat.
Data Reuters menunjukkan, Harga kontrak berjangka minyak Brent turun US$ 7,24 atau hampir 7% menjadi US$ 96,30 per barel pada pukul 14.29 ET (18.43 GMT). Sementara, harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 6,30 atau 6,5% menjadi US$ 90,88 per barel.
Volume perdagangan relatif tipis karena libur Memorial Day di Amerika Serikat.
Negosiator utama Iran dan menteri luar negerinya berada di Doha untuk melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Qatar terkait potensi kesepakatan dengan AS guna mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan, kata seorang pejabat yang mengetahui kunjungan tersebut pada Senin.
Kedua pihak menyatakan telah mencapai kemajuan dalam penyusunan nota kesepahaman yang akan menghentikan perang dan memberikan waktu 60 hari bagi negosiator untuk mencapai kesepakatan final.
“Mulai Ada Minyak yang Bergerak”
“Walaupun belum selesai, tampaknya ada harapan bahwa kita akan mulai melihat minyak kembali mengalir melalui Selat Hormuz,” kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.
Namun, pendiri buletin Commodity Context, Rory Johnston, mengingatkan agar pasar tidak terlalu optimistis.
“Kita sudah beberapa kali hampir mencapai kesepakatan dalam beberapa bulan terakhir, tetapi akhirnya gagal pada detail-detail tertentu dan Hormuz tetap tertutup,” ujar Johnston.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak 1%, Cek Faktor Pendorongnya
Dalam unggahan panjang di Truth Social pada Senin, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan “baik”, tetapi memperingatkan akan ada serangan baru jika negosiasi gagal.
Trump juga mendorong lebih banyak negara Arab dan Muslim bergabung dalam Abraham Accords, kesepakatan yang dimediasi pada masa jabatan pertamanya untuk menormalisasi hubungan antara negara-negara Arab dan negara mayoritas Muslim lainnya dengan Israel.
“Itu bisa berarti pengurangan signifikan premi risiko di Timur Tengah, terutama jika kesepakatan dengan Iran tercapai dan Iran menyerahkan material nuklirnya,” kata Flynn.
Kementerian luar negeri Iran mengatakan pada Senin bahwa Iran sedang bernegosiasi untuk mengakhiri perang dan saat ini tidak membahas isu nuklir.
Meski kesepakatan damai tercapai, para analis memperkirakan normalisasi arus minyak melalui Selat Hormuz tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan, sambil menunggu perbaikan fasilitas minyak dan gas yang rusak.
“Kekurangan pasokan sekitar 10 juta-11 juta barel minyak per hari tidak akan langsung hilang dan pasar masih harus mengandalkan persediaan hingga produksi minyak Timur Tengah kembali normal, yang kemungkinan memerlukan waktu beberapa bulan,” kata analis Sparta Commodities, June Goh.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan faktor utama yang harus diperhatikan pasar tetaplah arus fisik minyak.
Tonton: Pertalite Mulai Langka, Tanda BBM Subsidi Akan Dihapus?
“Sejauh ini, arus melalui selat masih terbatas,” ujarnya.
Data pelacakan kapal menunjukkan tiga kapal tanker gas alam cair telah melintasi selat tersebut dalam beberapa hari terakhir menuju Pakistan, China, dan India. Selain itu, sebuah supertanker yang membawa minyak mentah Irak untuk China juga berhasil melintas setelah sempat tertahan hampir tiga bulan.
Tabel: Dampak Perkembangan Negosiasi AS-Iran terhadap Harga Minyak Dunia
| Indikator | Keterangan |
|---|---|
| Harga Brent | US$ 96,30 per barel |
| Penurunan Brent | Hampir 7% |
| Harga WTI | US$ 90,88 per barel |
| Penurunan WTI | 6,5% |
| Faktor Utama | Harapan kesepakatan damai AS-Iran |
| Dampak Potensial | Pembukaan kembali Selat Hormuz |
| Risiko Pasar | Pasokan minyak belum normal |
| Estimasi Pemulihan Pasokan | Bisa memakan waktu beberapa bulan |
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



