Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pasar saham global jatuh pada Kamis setelah serangan terhadap kapal tanker minyak di kawasan Teluk serta peringatan dari Iran menghancurkan harapan akan meredanya konflik di Timur Tengah dalam waktu dekat. Situasi ini mendorong harga minyak melonjak hingga mendekati US$100 per barel dan kembali memicu kekhawatiran inflasi global.
Data Reuters menunjukkan, indeks saham utama di Wall Street turun tajam. Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 masing-masing merosot sekitar 1,5%, sementara Nasdaq Composite melemah 1,8%. Di Eropa, indeks saham STOXX 600 turun 0,6%, sedangkan indeks saham global MSCI All-World anjlok 1,5%.
Lonjakan harga minyak menjadi pemicu utama tekanan di pasar. Kontrak minyak mentah Brent ditutup di level US$100,46 per barel, naik US$8,48 atau sekitar 9,2% setelah sempat menyentuh US$101,60 dalam perdagangan intraday. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup di US$95,70 per barel, juga naik US$8,48 atau sekitar 9,7%.
Harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2022. Kenaikan tajam ini terjadi karena pasar meragukan apakah pelepasan cadangan minyak strategis mampu menahan dampak gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Monica Guerra, Kepala Kebijakan AS di Morgan Stanley Wealth Management, menyebut volatilitas pasar saham akibat faktor geopolitik biasanya hanya berlangsung singkat. Namun ia memperingatkan bahwa jika harga minyak tinggi bertahan lama, respons kebijakan bank sentral Amerika Serikat bisa menjadi lebih rumit.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membuat suku bunga acuan The Fed bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama.
Baca Juga: Siapakah Penggantinya Jika Iran Batal Ikut Piala Dunia 2026? Indonesia Berpeluang?
Iran Ancam Serangan Lanjutan dan Penutupan Selat Hormuz
Ketegangan meningkat setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, memperingatkan negaranya akan membalas serangan dan tetap menutup Selat Hormuz serta menyerang pangkalan militer Amerika Serikat. Pernyataan tersebut menjadi komentar publik pertamanya sejak menggantikan ayahnya yang tewas.
Sebelumnya, dua kapal tanker bahan bakar di perairan Irak dilaporkan diserang kapal Iran yang membawa bahan peledak. Seorang pejabat Irak juga mengatakan pelabuhan minyak negara tersebut telah menghentikan operasi sepenuhnya.
Iran juga meningkatkan serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. Sejak konflik dimulai, sedikitnya 16 kapal dilaporkan terkena serangan di kawasan tersebut.
Teheran bahkan memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi harga minyak hingga US$200 per barel. Namun Menteri Energi AS Chris Wright menilai harga minyak global kemungkinan tidak akan mencapai level setinggi itu.
Menurut Ayako Yoshioka, Direktur Konsultasi Portofolio di Wealth Enhancement, semakin lama konflik berlangsung maka tekanan terhadap pasar global akan semakin besar.
Baca Juga: Harga BBM Meroket di 85 Negara, Inilah Negara yang Paling Terdampak Konflik Timteng
Lonjakan Harga Minyak Picu Risiko Inflasi
Di sisi lain, data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi AS masih meningkat. Indeks harga konsumen (CPI) AS naik 0,3% pada Februari, sesuai dengan perkiraan analis dan lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada Januari.
Meski demikian, laporan inflasi tersebut dianggap kurang relevan oleh sebagian pelaku pasar karena konflik Iran kini menjadi faktor baru yang dapat mempercepat inflasi.
Di pasar obligasi, kekhawatiran inflasi membuat imbal hasil (yield) naik secara global. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 4,261%, sementara yield obligasi dua tahun mencapai level tertinggi dalam enam bulan.
Pasar juga dibuat cemas oleh sektor kredit swasta global senilai sekitar US$2 triliun setelah perusahaan ekuitas swasta Swiss, Partners Group, memperingatkan bahwa tingkat gagal bayar berpotensi meningkat dua kali lipat dalam beberapa tahun ke depan.
Saham Morgan Stanley turun sekitar 4% setelah perusahaan tersebut membatasi penarikan dana pada salah satu dana kredit swasta miliknya. Langkah serupa sebelumnya juga dilakukan oleh Blackstone dan BlackRock, yang sahamnya masing-masing turun 4,7% dan 2,9%.
Tonton: Harga BBM Di 85 Negara Naik Efek Perang AS-Irak, Sampai Kapan Harga BBM RI Bertahan?
Investor Lari ke Dolar AS
Ketidakpastian pasar membuat investor memburu dolar AS sebagai aset aman. Sebaliknya, mata uang negara pengimpor energi seperti Jepang dan banyak negara Eropa cenderung ditinggalkan.
Euro turun 0,45% menjadi US$1,1515, sementara dolar menguat 0,28% terhadap yen Jepang menjadi 159,36 yen. Secara keseluruhan, dolar telah menguat lebih dari 1,5% terhadap sekeranjang mata uang utama dan mendekati level tertinggi sejak November.
Penguatan dolar juga didukung oleh posisi Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih.
Di pasar komoditas, harga emas justru turun sekitar 1,7% menjadi US$5.088 per ounce.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













