kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.354   10,00   0,06%
  • IDX 6.957   -144,42   -2,03%
  • KOMPAS100 936   -21,42   -2,24%
  • LQ45 669   -14,80   -2,16%
  • ISSI 251   -4,43   -1,74%
  • IDX30 373   -6,79   -1,79%
  • IDXHIDIV20 458   -7,34   -1,58%
  • IDX80 105   -2,51   -2,34%
  • IDXV30 134   -2,24   -1,64%
  • IDXQ30 119   -2,51   -2,07%
GLOBAL /

Brent Tembus US$ 111, WTI Hampir US$ 100! Selat Hormuz Jadi Biang Kerok


Rabu, 29 April 2026 / 04:15 WIB
Brent Tembus US$ 111, WTI Hampir US$ 100! Selat Hormuz Jadi Biang Kerok
ILUSTRASI. Harga minyak melambung 3% di tengah ketegangan Selat Hormuz. Bank Dunia prediksi kenaikan 24% hingga 2026. (REUTERS/Alexander Manzyuk)

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Harga minyak ditutup menguat hampir 3% pada Selasa (28/4/2026), karena kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai terbatasnya pasokan akibat penutupan Selat Hormuz lebih besar dibanding kekhawatiran pasar atas keputusan Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari OPEC dan kelompok OPEC+.

Mengutip Reuters, harga kontrak Brent untuk pengiriman Juni naik US$ 3,03 atau 2,8% menjadi US$ 111,26 per barel, mencatat kenaikan untuk hari ketujuh berturut-turut. Sementara kontrak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Juni ditutup naik US$ 3,56 atau 3,7% menjadi US$ 99,93 per barel, setelah sempat diperdagangkan di atas US$ 100 lebih awal dalam sesi perdagangan, untuk pertama kalinya sejak 13 April.

Namun kenaikan harga sempat berkurang setelah UEA, produsen terbesar keempat di OPEC+, mengatakan pada Selasa bahwa mereka akan keluar dari kelompok itu pada 1 Mei. Keputusan tersebut menjadi pukulan bagi kelompok eksportir minyak dan pemimpin de facto mereka, Arab Saudi.

“Dalam kondisi normal, ini akan menjadi kabar yang sangat bearish bagi pasar minyak dan memicu aksi jual besar,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital.

Ia memperkirakan UEA bisa dengan cepat menambah produksi sekitar 1 juta hingga 1,5 juta barel per hari.

“Tetapi dengan Selat Hormuz yang pada dasarnya tertutup, pasokan itu tidak punya jalur keluar... jadi kita kemungkinan akan melihat harga minyak terus naik perlahan,” tambahnya.

Seorang pejabat AS mengatakan pada Senin bahwa Presiden AS Donald Trump tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang. Sumber Iran mengungkapkan proposal itu menghindari pembahasan program nuklir hingga konflik berhenti dan sengketa pengiriman di Teluk diselesaikan.

Baca Juga: Emas Rontok! Pasar Panik Inflasi Setelah Trump Tolak Proposal Iran

Ketidaksenangan Trump membuat konflik berada dalam kebuntuan. Iran menutup arus pelayaran melalui selat tersebut, jalur yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia dan LNG, sementara Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

“Dengan perundingan damai yang mandek dan tidak ada jalur jelas untuk membuka kembali Selat Hormuz, para pedagang memperhitungkan gangguan berkepanjangan terhadap arteri penting pasokan global,” kata analis Rystad Energy Jorge Leon.

Putaran negosiasi sebelumnya antara AS dan Iran runtuh pekan lalu setelah pertemuan tatap muka gagal.

Data pelacakan kapal menunjukkan gangguan signifikan di kawasan tersebut, dengan enam tanker minyak Iran terpaksa berbalik arah akibat blokade AS, meskipun sebagian lalu lintas masih berjalan.

Kapal tanker berbendera Panama Idemitsu Maru, yang membawa 2 juta barel minyak Saudi, serta kapal tanker LNG yang dikelola ADNOC (perusahaan minyak nasional Abu Dhabi) melintasi Selat Hormuz pada Selasa, menurut data pelayaran.

Kapal LNG ADNOC tersebut menjadi kapal LNG bermuatan pertama yang melintasi selat sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari.

Sebelum perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari, sekitar 125 hingga 140 kapal melintasi selat itu setiap hari.

Data Vortexa menunjukkan jumlah minyak mentah yang tersimpan di tanker-tanker di seluruh dunia yang tidak bergerak selama setidaknya tujuh hari meningkat menjadi 153,11 juta barel per 24 April. Angka itu merupakan yang tertinggi sejak Januari dan naik 25% dari 122,60 juta barel pada 17 April.

Tonton: Iran Siap Buka Selat Hormuz, Tapi Ada Syarat Keras untuk AS!

Bank Dunia pada Selasa mengatakan harga energi global dapat naik 24% pada 2026 ke level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina, bahkan jika gangguan pasokan Timur Tengah yang paling parah mereda pada Mei.

Dalam skenario dasar, Bank Dunia memperkirakan pengiriman melalui Selat Hormuz akan pulih secara bertahap hingga Oktober, namun memperingatkan risiko harga tetap “condong kuat” menuju kenaikan.

Di Amerika Serikat, harga bensin naik ke level tertinggi dalam hampir empat tahun, menurut data AAA.

Dari sisi pasokan, kebakaran di kilang Shell Norco di Louisiana berkapasitas 231.827 barel per hari telah dipadamkan, menurut juru bicara perusahaan, meskipun belum jelas apakah operasi kilang sudah kembali normal.

Serangan drone Ukraina juga memicu kebakaran besar di kilang Tuapse Rusia, yang memiliki kapasitas produksi tahunan sekitar 12 juta metrik ton atau sekitar 240.000 barel per hari, menghasilkan nafta, diesel, fuel oil, dan vacuum gasoil.

Sementara itu, China kemungkinan akan kembali mengekspor bahan bakar pada Mei setelah perusahaan minyak milik negara mengajukan izin ekspor bensin, diesel, dan avtur, lapor Financial Times mengutip para pedagang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

×