Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga emas naik lebih dari 1% pada Kamis (9/4/2026) seiring melemahnya dolar AS. Di sisi lain, investor menilai, ketahanan gencatan senjata antara Washington dan Teheran sangat rapuh. Investor juga menanti rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS.
Data Reuters menunjukkan, harga emas spot naik 1,6% menjadi US$ 4.789,67 per ons pada pukul 13.30 ET (17.30 GMT), setelah pada sesi sebelumnya menyentuh level tertinggi hampir tiga pekan.
Kontrak berjangka emas AS ditutup naik 0,9% menjadi US$ 4.818,00.
Indeks dolar AS melemah. Dolar yang lebih lemah membuat emas lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
“Dolar yang melemah telah membantu emas kembali menguat, tetapi pasar masih berhati-hati karena pelaku pasar mencoba menafsirkan apa arti gencatan senjata ini,” kata Bob Haberkorn, senior market strategist di RJO Futures.
“Berita soal gencatan senjata sebelumnya sangat bullish bagi emas, namun harga telah terkoreksi dari puncak terbaru karena mulai terlihat celah,” tambahnya.
Israel kembali membombardir lebih banyak target di Lebanon, yang menurut Teheran harus termasuk dalam gencatan senjata. Sementara itu, tidak ada tanda-tanda Iran mencabut blokadenya terhadap Selat Hormuz.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Angkat Harga Emas, Akankah Bertahan?
Kegagalan negosiasi dan kembali memanasnya perang berisiko mendorong biaya energi dan inflasi naik, yang dapat memaksa Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini pada akhirnya bisa mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding), meskipun emas dikenal sebagai lindung nilai tradisional terhadap inflasi.
Morgan Stanley menyatakan pihaknya memperkirakan emas akan stabil sepanjang kuartal kedua sebelum kembali menguat pada paruh kedua tahun ini.
“Jika kenaikan suku bunga The Fed dapat dihindari, kami menilai emas bisa kembali menguat, sementara penyelesaian konflik juga akan mendukung, kemungkinan mengembalikan fokus pada pelemahan nilai mata uang fiat,” tambah Morgan Stanley.
Pasar juga menunggu data CPI AS untuk Maret, yang dijadwalkan rilis pada Jumat.
Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi pilihan The Fed, naik 2,8% dalam 12 bulan hingga Februari, sesuai perkiraan, dan kemungkinan meningkat lebih lanjut pada Maret.
Tonton: Iran Tutup Selat Hormuz Lagi Buntut Israel Serang Lebanon! Gencatan Senjata Terancam Runtuh
Sementara itu, harga perak spot naik 2,9% menjadi US$ 76,24 per ons, platinum naik 3,8% menjadi US$ 2.106,01, dan paladium naik tipis 0,3% menjadi US$ 1.558,75.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













