Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia ditutup melonjak lebih dari 3% pada Selasa (18/3), setelah serangan terbaru Iran ke Uni Emirat Arab (UEA) memperburuk kekhawatiran pasar terhadap pasokan global, di tengah konflik AS-Israel melawan Iran yang kini memasuki pekan ketiga.
Data Reuters menunjukkan, Harga minyak mentah Brent naik US$ 3,21 atau 3,2% ke level US$ 103,42 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 2,71 atau 2,9% menjadi US$ 96,21 per barel.
Konflik Iran dinilai belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Meski harga minyak sempat melonjak mendekati US$ 120 per barel di awal bulan, pasar kini mulai bersiap menghadapi potensi gangguan pasokan jangka panjang.
Serangan terhadap fasilitas minyak serta terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair dunia, membuat pelaku pasar waspada terhadap risiko kenaikan harga yang lebih tinggi.
“Risikonya masih sangat besar. Cukup satu milisi Iran meluncurkan rudal atau menanam ranjau di tanker untuk kembali memicu eskalasi besar,” ujar analis IG, Tony Sycamore.
Pada Selasa, Iran kembali melancarkan serangan ke UEA yang menyebabkan aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan Fujairah terganggu. Serangan tersebut memicu kebakaran di terminal ekspor, menjadi insiden ketiga dalam empat hari terakhir.
Baca Juga: Israel Klaim Tewaskan Kepala Keamanan Iran, Bagaimana Gerak Harga Emas?
Pelabuhan Fujairah, yang terletak di Teluk Oman di luar Selat Hormuz, merupakan jalur penting dengan volume setara sekitar 1% permintaan minyak global.
Penutupan efektif Selat Hormuz memaksa UEA, produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, memangkas produksi lebih dari separuh, menurut sumber Reuters.
Akibatnya, harga minyak Timur Tengah melonjak ke rekor tertinggi dan menjadi yang termahal di dunia, seiring berkurangnya pasokan yang tersedia di pasar.
Gangguan Parah dan Ketegangan Global
Situasi semakin kompleks setelah sejumlah sekutu Amerika Serikat menolak ajakan Presiden Donald Trump untuk mengirim kapal perang guna mengawal jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menteri Pertahanan Jerman menegaskan bahwa konflik tersebut bukanlah perang mereka. Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan negaranya tidak akan terlibat dalam operasi pembukaan jalur tersebut, kecuali dalam misi menjaga kebebasan navigasi setelah konflik berakhir.
Di sisi lain, penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett menyebut kapal tanker mulai kembali melintas di Selat Hormuz, meski dalam jumlah terbatas. Pemerintah AS memperkirakan konflik ini akan berlangsung dalam hitungan minggu, bukan bulan.
Sebelumnya pada Senin, harga Brent sempat turun 2,8% dan WTI merosot 5,3% setelah beberapa kapal berhasil melewati jalur strategis tersebut.
Tonton: Inggris Tolak Rencana Trump! Operasi Buka Selat Hormuz Bukan Misi NATO
Meski begitu, analis menilai gangguan pasokan masih akan signifikan.
“Walau ada pergerakan kapal, pasar tetap memperkirakan gangguan akan cukup parah,” tulis bank investasi Cavendish dalam catatannya.
Harga Masih Berpotensi Naik
Analis OANDA, Kelvin Wong, menyebut harga minyak masih berpotensi naik hingga akhir Maret. Secara teknikal, level resistensi menengah WTI berada di kisaran US$124 per barel.
Untuk meredam lonjakan harga energi, Kepala International Energy Agency (IEA) menyarankan negara-negara anggotanya untuk melepas cadangan minyak tambahan, di luar 400 juta barel yang sudah disepakati sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













