Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga minyak melonjak pada Kamis (2/4/2026), sementara pasar saham global bergerak campur aduk dalam perdagangan yang volatil. Para pelaku pasar menimbang berbagai perkembangan dan pernyataan yang saling bertentangan terkait perang Iran.
Saham-saham Eropa sempat memangkas penurunan. Beberapa indeks utama Wall Street dan harga obligasi AS juga sempat kembali menguat setelah muncul kabar bahwa Iran sedang menyusun sebuah protokol bersama Oman untuk memantau lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Namun, harga minyak dunia tetap melonjak hampir 8%, sementara minyak mentah AS naik lebih dari 11%.
Data Reuters menunjukkan, harga minyak Brent ditutup naik 7,78% ke US$ 109,03 per barel. Sementara minyak mentah AS (WTI) naik 11,41% ke US$ 111,54 per barel.
Lonjakan ini terjadi sehari setelah Presiden AS Donald Trump dalam pidato prime-time mengatakan bahwa AS akan menyerang Iran “dengan sangat keras” dalam beberapa pekan ke depan dan “mengembalikan mereka ke Zaman Batu, tempat yang pantas bagi mereka.”
“Dalam 48 jam terakhir, Teheran dan Washington saling melontarkan banyak pernyataan yang beragam, sebagian mengisyaratkan peluang de-eskalasi meningkat,” kata Felix-Antoine Vezina-Poirier dari BCA Research.
Ia menambahkan, strategi GeoMacro BCA memberi panduan sederhana untuk menghadapi berita yang berubah-ubah: berpegang pada fakta.
Baca Juga: Berakhirnya Perang Iran Bisa Menjadi Pedang Bermata Dua bagi Emas!
“Pertama, aktivitas pelayaran melalui Hormuz meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kedua, Iran secara sengaja mengalihkan target serangan dari negara-negara GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) menuju target Israel,” jelasnya.
Dalam pidato yang banyak disorot pada Rabu, Trump menyatakan serangan AS ke Iran akan ditingkatkan dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Pernyataan ini muncul hanya sehari setelah Trump mengatakan kepada Reuters bahwa AS akan “keluar dari Iran dengan cukup cepat.”
“Satu-satunya hal yang benar-benar penting adalah apakah Selat Hormuz akan segera dibuka kembali,” kata Prashant Newnaha, ahli strategi suku bunga senior di TD Securities.
Trump sebelumnya juga mengatakan AS tidak membutuhkan jalur strategis tersebut sebagai pintu utama minyak.
Tonton: EKSKLUSIF: AS Terbangkan Bomber B-52 Langsung di Atas Iran! Konflik Memanas di Timur Tengah
“Fakta bahwa kita bisa mengantisipasi 2–3 pekan aksi lanjutan, kemungkinan pengerahan pasukan darat tidak dikesampingkan dalam pidato Trump, serta ancaman serangan terhadap infrastruktur kembali ditegaskan, membuat pasar kembali bersikap defensif,” kata Jon Withaar dari Pictet Asset Management.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













