kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.552   22,00   0,13%
  • IDX 6.763   -95,86   -1,40%
  • KOMPAS100 901   -14,77   -1,61%
  • LQ45 662   -7,84   -1,17%
  • ISSI 245   -3,02   -1,22%
  • IDX30 374   -3,06   -0,81%
  • IDXHIDIV20 457   -4,70   -1,02%
  • IDX80 103   -1,29   -1,24%
  • IDXV30 130   -1,35   -1,03%
  • IDXQ30 119   -0,98   -0,82%
GLOBAL /

Harga Minyak Naik Hampir 3% Usai Trump Sebut Gencatan Senjata Iran di Ujung Tanduk


Selasa, 12 Mei 2026 / 04:18 WIB
Harga Minyak Naik Hampir 3% Usai Trump Sebut Gencatan Senjata Iran di Ujung Tanduk
ILUSTRASI. Harga minyak ditutup menguat hampir 3% setelah Donald Trump mengatakan gencatan senjata dengan Iran sedang dalam kondisi kritis. (REUTERS/Pavel Mikheyev)

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Harga minyak ditutup menguat hampir 3% pada perdagangan Senin (11/5/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan gencatan senjata dengan Iran “sedang dalam kondisi kritis”, membuat Selat Hormuz tetap sebagian besar tertutup tanpa kepastian kapan perang akan berakhir.

Data Reuters menunjukkan, harga kontrak berjangka Brent ditutup naik US$ 2,92 atau 2,88% menjadi US$ 104,21 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup di US$ 98,07 per barel, naik US$ 2,65 atau 2,78%.

Brent sempat menyentuh level tertinggi sesi di US$ 105,99, sementara WTI mencapai puncak di US$ 100,37.

Pekan lalu, kedua patokan harga tersebut mencatat penurunan mingguan sebesar 6% karena muncul harapan konflik yang telah berlangsung 10 minggu akan segera berakhir, sehingga minyak dapat kembali melintas melalui Selat Hormuz.

Namun pada Senin, Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada “di ujung tanduk”, setelah ia menilai respons Teheran atas proposal perdamaian AS sebagai sesuatu yang “bodoh”.

Beberapa hari setelah Washington melontarkan proposal yang ditujukan untuk membuka kembali negosiasi, Iran pada Minggu merilis tanggapan yang menekankan penghentian perang di semua front, termasuk Lebanon, tempat sekutu AS yaitu Israel bertempur melawan Hizbullah yang didukung Iran.

Teheran juga menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang, menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, serta meminta AS mengakhiri blokade angkatan laut, memberikan jaminan tidak ada serangan lanjutan, mencabut sanksi, dan menghapus larangan penjualan minyak Iran.

Dalam hitungan jam, Trump menolak tawaran Iran tersebut melalui unggahan di media sosial dan menyebutnya “sama sekali tidak dapat diterima”.

Baca Juga: Harga Emas Berbalik Naik Tipis, Ada Aksi Berburu Harga Murah oleh Investor

“Narasi berubah lagi dari de-eskalasi menjadi eskalasi hanya dalam beberapa hari dan pasar minyak meresponsnya, meski hanya secara moderat,” kata Florence Schmit, analis strategi energi Rabobank.

Trump Dijadwalkan Bertemu Xi di Beijing Pekan Ini

Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu dan diperkirakan akan membahas Iran bersama Presiden China Xi Jinping, di antara sejumlah isu lain, menurut pejabat AS.

“Saya rasa tidak ada yang berharap AS akan menaikkan tensi konflik dalam beberapa hari ke depan selama pertemuan Trump-China ini berlangsung,” kata Bob Yawger, Direktur Energy Futures di Mizuho.

Dunia telah kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak dalam dua bulan terakhir dan pasar energi membutuhkan waktu untuk kembali stabil bahkan jika arus minyak kembali normal, kata CEO Saudi Aramco Amin Nasser pada Minggu.

Ekspor minyak mentah Arab Saudi ke China diperkirakan kembali turun pada Juni setelah para pembeli mengurangi permintaan (nominasi) akibat harga yang mahal terkait konflik AS-Iran dan pasokan yang lebih terbatas, menurut sumber perdagangan kepada Reuters.

Produksi minyak OPEC pada April juga turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade, berdasarkan survei Reuters, karena perang membuat Selat Hormuz praktis tertutup dan memaksa pemangkasan ekspor.

Survei tersebut mencatat produksi minyak mentah 12 anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada April turun 830.000 barel per hari dibanding bulan sebelumnya menjadi 20,04 juta barel per hari.

Angka produksi Maret direvisi turun sebesar 700.000 barel per hari akibat perubahan estimasi Saudi.

Sementara itu, data pelayaran Kpler menunjukkan tiga kapal tanker yang mengangkut minyak mentah keluar dari Selat Hormuz pada pekan lalu dan Minggu, dengan perangkat pelacak dimatikan. Salah satunya membawa minyak mentah Irak menuju Vietnam.

Tonton: Iran Putar Otak Hadapi Blokade AS! Jalur Kereta China Jadi Nafas Baru

Kementerian industri Jepang menyebut sebuah kapal tanker yang membawa minyak mentah Azerbaijan diperkirakan tiba paling cepat pada Selasa. Ini menjadi kargo minyak pertama yang diterima Jepang dari Azerbaijan sejak perang Iran dimulai.

Analis JPMorgan memperkirakan harga minyak akan bertahan di kisaran US$ 100-an rendah sepanjang sisa tahun ini, dengan rata-rata US$ 97 per barel pada 2026, karena pemulihan pasokan tidak akan berlangsung cepat meski Selat Hormuz kembali dibuka.

Tabel: Pergerakan Harga Minyak (Penutupan Senin, 11 Mei)

Patokan Minyak Harga Penutupan (US$/barel) Kenaikan (US$) Kenaikan (%) Harga Tertinggi Sesi
Brent 104,21 +2,92 +2,88% 105,99
WTI 98,07 +2,65 +2,78% 100,37

Tabel: Dampak Konflik AS-Iran terhadap Pasokan Minyak Global

Faktor Dampak Utama
Selat Hormuz sebagian besar tertutup Menghambat ekspor minyak global
Kehilangan pasokan global 2 bulan terakhir ± 1 miliar barel
Produksi OPEC April 2026 20,04 juta bph (turun 830.000 bph)
Ekspor Saudi ke China (proyeksi Juni) Diperkirakan turun lagi
Tanker keluar Selat Hormuz tanpa pelacak Risiko keamanan & transparansi pasokan meningkat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

×