kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.831.000   -26.000   -0,91%
  • USD/IDR 17.055   55,00   0,32%
  • IDX 6.989   -37,36   -0,53%
  • KOMPAS100 965   -5,89   -0,61%
  • LQ45 708   -6,82   -0,95%
  • ISSI 250   -1,40   -0,56%
  • IDX30 388   -0,50   -0,13%
  • IDXHIDIV20 481   -1,39   -0,29%
  • IDX80 109   -0,72   -0,66%
  • IDXV30 133   -0,62   -0,46%
  • IDXQ30 126   -0,40   -0,32%
GLOBAL /

Harga Minyak Alami Kenaikan Usai AS-Iran Saling Gertak


Selasa, 07 April 2026 / 06:06 WIB
Diperbarui Selasa, 07 April 2026 / 06:22 WIB
Harga Minyak Alami Kenaikan Usai AS-Iran Saling Gertak
ILUSTRASI. Harga minyak melonjak tajam usai AS-Iran saling gertak. Pembicaraan damai belum tentu redakan ketegangan yang memicu kenaikan. (REUTERS/Dado Ruvic)

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Harga minyak naik dalam perdagangan yang bergejolak pada Senin (6/4/2026), seiring Amerika Serikat dan Iran saling meningkatkan retorika, meski kedua negara juga tengah melakukan pembicaraan tidak langsung yang dapat mengarah pada de-eskalasi permusuhan.

Data Reuters menunjukkan, kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup pada US$ 109,77 per barel, naik 74 sen atau 0,68%. Sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada US$ 112,40 per barel, naik 87 sen atau 0,78%.

Agar harga dapat turun ke level yang tidak terlalu mahal, penghentian serangan harus disertai dengan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz yang krusial, jalur pelayaran yang digunakan untuk sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Konsumen minyak utama, terutama di Asia, mulai menghemat pasokan atau memangkas konsumsi sebagai respons atas penutupan selat tersebut.

Amerika Serikat dan Iran menerima kerangka usulan dari Pakistan untuk mengakhiri permusuhan, namun Iran menolak gagasan untuk segera membuka kembali selat tersebut setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menghujani negara itu dengan “neraka” jika tidak mencapai kesepakatan hingga akhir Selasa.

Selat Hormuz, yang menjadi jalur pengiriman minyak dan produk minyak dari Irak, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, masih sebagian besar tertutup akibat serangan Iran terhadap kapal-kapal setelah serangan AS-Israel dimulai pada 28 Februari.

Baca Juga: Harga Emas Tertekan, Ancaman Trump Guncang Pasar Logam Mulia

Namun, sejumlah kapal termasuk kapal tanker yang dioperasikan Oman, kapal kontainer milik Prancis, serta kapal pengangkut gas milik Jepang telah melintas di selat itu sejak Kamis, menurut data pelayaran. Hal ini mencerminkan kebijakan Iran untuk mengizinkan kapal dari negara-negara yang dianggap bersahabat melintas.

“Pasar sedang mencoba memahami apa yang bisa diharapkan ke depan. Berita paling penting akhir pekan ini adalah bahwa beberapa kapal berhasil melintasi selat tersebut,” kata analis SEB Research, Ole Hvalbye.

Hvalbye juga menyoroti bahwa Eropa terus kehilangan pasokan fisik minyak dan produk minyak ke Asia akibat kondisi pasar yang semakin ketat.

Iran mengatakan pihaknya telah merumuskan posisi dan tuntutannya sebagai respons atas proposal gencatan senjata terbaru yang disampaikan melalui perantara.

“Situasinya sangat dinamis dengan berbagai rencana perdamaian yang terus bermunculan,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital. “Retorika dari Iran tampaknya menolak proposal gencatan senjata, tetapi mereka tetap mengizinkan lebih banyak kapal melintasi Selat Hormuz.”

Pergerakan harga pada Senin terjadi setelah lonjakan 11% untuk WTI dan kenaikan 8% untuk Brent pada sesi perdagangan sebelumnya hari Kamis, yang merupakan kenaikan harga absolut terbesar sejak 2020.

Baca Juga: Daftar Terbaru 12 Negara yang Telah Diizinkan Lewat Selat Hormuz, RI Kok Belum?

Mencari sumber alternatif

Gangguan pasokan dari Timur Tengah mendorong kilang-kilang mencari sumber minyak mentah alternatif, terutama untuk kargo fisik di AS dan kawasan Laut Utara Inggris.

Premi spot untuk minyak mentah WTI AS melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa akibat persaingan antara kilang di Asia dan Eropa.

Kilang-kilang di India juga menunda penghentian operasional untuk perawatan unit guna memenuhi permintaan bahan bakar domestik.

Pada Minggu, OPEC+ yang terdiri dari beberapa anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu seperti Rusia, sepakat menaikkan produksi secara moderat sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei.

“Pergerakan OPEC tampaknya akan menghadapi tantangan berdasarkan ketersediaan ekspor,” kata analis Rystad, Janiv Shah.

Arab Saudi juga menetapkan harga jual resmi minyak mentah Arab Light untuk Asia pada Mei dengan premi rekor sebesar US$ 19,50 per barel di atas rata-rata Oman/Dubai, naik US$ 17 dari bulan sebelumnya, menurut Aramco.

Tonton: Trump Ultimatum Iran Buka Hormuz 48 Jam! Iran Ancam Pintu Neraka untuk AS!

Pasokan Rusia juga baru-baru ini terganggu akibat serangan drone Ukraina terhadap terminal ekspor di Laut Baltik. Laporan media pada Minggu menyebut terminal Ust-Luga kembali memulai pengapalan pada Sabtu setelah mengalami gangguan selama beberapa hari.

Ekspor dari pelabuhan Tuapse di Laut Hitam diperkirakan naik menjadi 794.000 metrik ton pada April, naik 8,7% secara basis harian dari 755.000 metrik ton yang direncanakan pada Maret, menurut dua pedagang dan perhitungan Reuters.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

×