kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.843.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.921   -74,00   -0,44%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%
GLOBAL /

Negara di Dunia Ramai-Ramai Tekan Harga BBM akibat Perang Iran, RI Apa Kabar?


Rabu, 25 Maret 2026 / 03:02 WIB
 Negara di Dunia Ramai-Ramai Tekan Harga BBM akibat Perang Iran, RI Apa Kabar?
ILUSTRASI. Lonjakan harga bahan bakar global akibat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mendorong berbagai negara mengambil langkah cepat untuk menekan dampaknya terhadap masyarakat dan dunia usaha. (REUTERS/Christian Hartmann)

Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Lonjakan harga bahan bakar global akibat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mendorong berbagai negara mengambil langkah cepat untuk menekan dampaknya terhadap masyarakat dan dunia usaha.

Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026 setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran, harga minyak dunia melonjak tajam. Situasi tersebut salah satunya dipicu oleh penutupan Selat Hormuz sebagai respons Iran terhadap serangan AS-Israel.

Kondisi ini memaksa banyak negara mengeluarkan kebijakan darurat, mulai dari pemangkasan pajak hingga pembatasan konsumsi energi.

Beragam kebijakan tekan harga

Sejumlah negara memilih intervensi langsung terhadap harga bahan bakar guna melindungi konsumen.

Spanyol misalnya, meluncurkan paket bantuan senilai 5 miliar euro dengan memangkas pajak pertambahan nilai (PPN) bahan bakar, yang diperkirakan menurunkan harga hingga 30 sen euro per liter.

Kebijakan serupa juga diterapkan di Portugal dan diumumkan di Swedia.

Beberapa negara lain seperti Kroasia, Hongaria, Korea Selatan, dan Thailand bahkan menetapkan batas harga bahan bakar.

Baca Juga: Harga Emas Bangkit dari Titik Terendah 4 Bulan, Tapi Tren Penurunan Belum Berhenti

Vietnam mengambil langkah berbeda dengan membebaskan bea masuk impor bahan bakar sepanjang April.

Di Asia Timur, Jepang memberikan subsidi kepada kilang agar harga bensin tetap di kisaran 170 yen per liter, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor 190,8 yen.

Taiwan juga menerapkan mekanisme penyerapan 60 persen kenaikan harga.

Sementara itu, China membatasi kenaikan harga bahan bakar di tingkat konsumen.

Yunani menyiapkan dana bantuan sebesar 300 juta euro untuk rumah tangga dan petani.

Negara lain seperti Maroko memberikan subsidi langsung kepada perusahaan transportasi jalan, sedangkan Brasil menangguhkan pajak bahan bakar diesel untuk sementara waktu.

Di Eropa, Jerman bahkan melarang stasiun pengisian bahan bakar menaikkan harga lebih dari sekali dalam sehari.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok hingga 13% Usai Trump Tunda Serangan ke Iran

Manfaatkan cadangan dan batasi konsumsi

Selain intervensi harga, sejumlah negara juga mulai mengandalkan cadangan energi strategis dan menerapkan pembatasan konsumsi.

Sebagaimana dilansir AFP, Selasa (24/3/2026), sebanyak 32 negara anggota International Energy Agency, termasuk negara-negara G7, telah melepas cadangan minyak dalam jumlah rekor.

Bangladesh menerapkan sistem penjatahan bahan bakar, sementara Mesir membatasi perjalanan dinas yang tidak mendesak.

Filipina mengurangi layanan feri, di tengah kenaikan tarif transportasi umum.

India memprioritaskan pasokan gas untuk kebutuhan rumah tangga.

Korea Selatan bahkan mempertimbangkan meningkatkan penggunaan pembangkit listrik berbahan batu bara dan energi nuklir untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak.

Dorong penghematan energi

Sejumlah negara juga fokus pada upaya menekan konsumsi energi.

Thailand dan Vietnam mendorong kebijakan kerja dari rumah (work from home/WFH), terutama bagi pegawai pemerintah.

Indonesia sendiri disebut tengah mempertimbangkan kebijakan serupa, yakni satu hari WFH bagi aparatur sipil negara maupun pegawai swasta.

Filipina melangkah lebih jauh dengan menerapkan sistem kerja empat hari bagi pegawai pemerintah.

Thailand juga menaikkan suhu pendingin ruangan di gedung publik menjadi 26 derajat Celsius untuk menghemat listrik.

Vietnam mengimbau masyarakat menggunakan sepeda, berbagi kendaraan, atau beralih ke transportasi umum.

Di Bangladesh, pemerintah bahkan menutup universitas dan memajukan libur Idul Fitri guna mengurangi konsumsi listrik.

Pemerintah juga membatalkan dekorasi lampu di gedung-gedung pemerintah saat hari raya dan peringatan Hari Kemerdekaan.

Tonton: Trump Klaim Ada Deal, Iran Langsung Bantah Keras! Ada Apa?

Indonesia masih mengkaji

Di tengah berbagai langkah agresif negara lain, Indonesia sejauh ini masih mengkaji opsi kebijakan yang akan diambil untuk merespons lonjakan harga energi global.

Selain itu, sejumlah negara juga mulai melirik impor minyak mentah dari Rusia, setelah Amerika Serikat sempat melonggarkan sanksi pada pertengahan Maret.

Situasi ini menunjukkan bahwa dampak perang di Timur Tengah tidak hanya dirasakan di kawasan tersebut, melainkan juga memicu respons luas dari berbagai negara dalam menjaga stabilitas ekonomi dan energi domestik.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/24/080000265/dunia-berlomba-tekan-harga-bbm-akibat-perang-as-israel-vs-iran-bagaimana?page=1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

×