Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia turun lebih dari 1% pada Kamis (12/3/2026) karena penguatan dolar AS serta berkurangnya harapan pemangkasan suku bunga. Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perang Iran yang memicu kekhawatiran inflasi global.
Data Reuters menunjukkan, harga emas spot tercatat turun 1,1% menjadi US$ 5.118,16 per ounce pada pukul 13.31 waktu New York. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April ditutup melemah 1% ke level US$ 5.125,80 per ounce.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Mata uang dolar dikenal sebagai aset safe haven yang bersaing dengan emas. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Phillip Streible, Chief Market Strategist di Blue Line Futures, mengatakan kenaikan indeks dolar, meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield), serta belum adanya pemangkasan suku bunga menjadi faktor negatif bagi emas.
Meski demikian, konflik di Timur Tengah tetap memicu sebagian aliran dana ke aset safe haven seperti emas.
Baca Juga: Ancaman Iran Guncang Pasar Global: Minyak US$ 100, Saham Terjun Bebas
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak
Ketegangan meningkat setelah dua kapal tanker dilaporkan terbakar di perairan Irak dalam dugaan eskalasi serangan Iran yang mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah. Dampaknya, harga minyak melonjak tajam pada hari yang sama.
Pemimpin tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, juga menyatakan negaranya akan membalas serangan, mempertahankan penutupan Selat Hormuz, dan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat.
Kenaikan harga minyak berpotensi mempercepat inflasi karena meningkatkan biaya transportasi dan produksi. Emas biasanya dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, namun suku bunga tinggi dapat menekan daya tarik emas karena investor lebih memilih aset yang memberikan imbal hasil.
Streible menilai jika harga minyak bisa dicegah untuk terus naik lebih tinggi, maka harga emas masih memiliki peluang untuk menguat.
Di sisi lain, permintaan dari bank sentral dan aliran dana ke exchange traded fund (ETF) emas yang tetap positif sepanjang tahun ini juga menjadi faktor pendukung harga emas.
Baca Juga: Siapakah Penggantinya Jika Iran Batal Ikut Piala Dunia 2026? Indonesia Berpeluang?
Bank Sentral Chile Tambah Cadangan Emas
Bank Sentral Chile tercatat melakukan pembelian emas besar pertama sejak setidaknya tahun 2000. Pada Februari lalu, cadangan emas negara tersebut meningkat menjadi US$1,108 miliar dari sebelumnya US$42 juta pada Januari, atau setara sekitar 2,2% dari total cadangan devisa.
Pergerakan Logam Mulia Lain
Selain emas, harga logam mulia lain juga mengalami penurunan.
Harga perak spot turun sekitar 1% menjadi US$84,90 per ounce, meskipun logam ini sempat melonjak lebih dari 146% sepanjang tahun lalu.
Analis BMI memperkirakan harga perak akan rata-rata berada di level US$93 per ounce pada 2026. Permintaan investasi yang kuat diperkirakan tetap menopang harga, meski permintaan dari sektor panel surya dan perhiasan mungkin melemah akibat kenaikan harga.
Tonton: Iran Tolak Gencatan Senjata Trump! Teheran Siap Lanjutkan Perang
Sementara itu, harga platinum turun 1,1% menjadi US$2.145,75 per ounce, dan palladium melemah sekitar 1% ke level US$1.620,86 per ounce.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













