kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.000   -49,00   -0,29%
  • IDX 7.184   136,22   1,93%
  • KOMPAS100 993   21,00   2,16%
  • LQ45 727   10,98   1,53%
  • ISSI 257   5,98   2,38%
  • IDX30 393   4,71   1,21%
  • IDXHIDIV20 487   -0,17   -0,03%
  • IDX80 112   2,02   1,84%
  • IDXV30 135   -0,77   -0,57%
  • IDXQ30 128   1,38   1,08%
GLOBAL /

Pernyataan Trump Bikin Harga Minyak Tertekan: Benarkah Perang Iran Segera Usai?


Kamis, 02 April 2026 / 05:35 WIB
Pernyataan Trump Bikin Harga Minyak Tertekan: Benarkah Perang Iran Segera Usai?
ILUSTRASI. Pernyataan Trump sukses menekan harga minyak global. Namun, kalkulasi analis menunjukkan ketidakpastian Selat Hormuz masih jadi ancaman serius. (REUTERS/Abdul Saboor)

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia ditutup melemah pada Rabu (waktu setempat) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa AS akan segera mengakhiri perang dengan Iran dalam waktu dekat.

Merujuk data yang dihimpun Reuters, Harga kontrak Brent bulan terdepan untuk pengiriman Juni turun US$ 2,81 atau 2,7% dan ditutup di level US$ 101,16 per barel. Meski sempat menyentuh titik terendah sesi di US$ 98,35 per barel, harga Brent kemudian berbalik naik tipis dari level tersebut.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei melemah US$ 1,26 atau sekitar 1,2% menjadi US$ 100,12 per barel, setelah sebelumnya sempat jatuh hingga US$ 96,50 per barel.

Trump, yang dijadwalkan menyampaikan pidato pada hari yang sama, mengatakan kepada Reuters bahwa AS telah memastikan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir dan siap keluar dari perang “cukup cepat”.

Sehari sebelumnya, Trump juga memberi sinyal bahwa AS bisa menghentikan perang dalam waktu dua hingga tiga minggu, bahkan tanpa adanya kesepakatan. Pernyataan tersebut langsung menekan harga minyak lebih dari US$ 3 per barel pada perdagangan Selasa.

Analis SEB menyebut pasar mulai bertaruh bahwa Trump tidak akan membiarkan gangguan pasokan minyak akibat perang Timur Tengah berlanjut hingga pertengahan Mei, periode saat permintaan bensin di AS biasanya mencapai puncaknya.

Baca Juga: Berakhirnya Perang Iran Bisa Menjadi Pedang Bermata Dua bagi Emas!

“Risiko terhadap harga bensin AS, sentimen konsumen, dan pada akhirnya pemilu paruh waktu November membuat konflik berkepanjangan menjadi beban politik yang mahal,” tulis analis SEB.

Pada Senin, harga bensin di AS tercatat menembus US$ 4 per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.

AS dan Iran saling memberi sinyal berbeda

Dalam unggahan media sosial pada Rabu, Trump mengklaim Iran meminta gencatan senjata. Namun, ia menyatakan akan mempertimbangkannya hanya jika Teheran berhenti memblokir Selat Hormuz. Iran membantah pernah mengajukan permintaan tersebut.

Iran telah menghentikan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap negara itu pada akhir Februari. Situasi ini mengganggu ekspor minyak dari Timur Tengah dan mendorong kenaikan harga energi secara global.

Para analis memperkirakan aliran energi melalui Selat Hormuz akan membutuhkan waktu cukup lama untuk kembali normal, bahkan jika gencatan senjata diumumkan.

“Kemungkinan mengarah pada keluarnya AS dari perang Iran, tetapi status Selat Hormuz masih sangat tidak pasti dan tetap layak dihargai dengan premi risiko geopolitik, meskipun pasokan minyak global perlahan mulai longgar,” ujar penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates.

Tonton: Harga BBM Pertamina 1 April 2026 Tidak Naik, Ini Rincian Harga Pertalite, Pertamax Cs

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengatakan pada Rabu bahwa gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah diperkirakan akan meningkat pada April dan akan mulai berdampak besar ke Eropa karena penutupan Selat Hormuz semakin menekan ekspor.

Produksi negara produsen besar turun tajam

Dampak penutupan Selat Hormuz juga terlihat pada produksi minyak negara-negara OPEC. Produksi minyak mentah OPEC turun 7,5 juta barel per hari pada Maret dibandingkan bulan sebelumnya, karena produsen terpaksa memangkas output akibat kapasitas penyimpanan yang sudah penuh.

Di sisi lain, produksi minyak mentah AS pada Januari turun paling tajam dalam dua tahun terakhir, setelah badai musim dingin parah menghentikan aktivitas produksi. Data ini dirilis oleh Energy Information Administration (EIA) pada Selasa.

Arab Saudi juga diperkirakan akan menaikkan harga jual resmi (official selling prices/OSP) minyak untuk Asia pada Mei ke level tertinggi sepanjang sejarah, setelah minyak Timur Tengah menjadi yang termahal secara global. Hal ini terungkap dari survei Reuters terhadap sumber industri.

Sementara itu, persediaan minyak mentah AS naik lebih tinggi dari perkiraan pekan lalu, berdasarkan data EIA yang dirilis pada Rabu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

×