Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia naik sekitar 4% pada perdagangan Senin (13/4/2026) setelah militer Amerika Serikat (AS) mulai memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran.
Langkah tersebut memicu ancaman balasan dari Teheran terhadap pelabuhan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk, setelah perundingan akhir pekan terkait upaya mengakhiri perang Iran kembali gagal mencapai kesepakatan.
Kontrak berjangka minyak ditutup lebih rendah dari level tertingginya pada sesi perdagangan, melanjutkan volatilitas yang menjadi ciri pasar minyak sejak AS dan Israel melancarkan serangan bersama ke Iran pada 28 Februari, yang memicu perang dan kini telah berlangsung lebih dari enam pekan.
Sementara harga minyak di pasar spot terus melonjak, pelaku pasar berjangka cenderung lebih berhati-hati akibat pernyataan Presiden AS Donald Trump yang tidak dapat diprediksi, yang kerap berubah dari ancaman keras hingga optimisme soal kesepakatan cepat untuk mengakhiri konflik.
Data Reuters menunjukkan, harga minyak mentah Brent naik US$ 4,16 atau 4,4% menjadi US$ 99,36 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 2,51 atau 2,6% menjadi US$ 99,08 per barel.
Sebelumnya dalam sesi perdagangan, Brent sempat naik lebih dari US$ 8 per barel, sedangkan WTI sempat melonjak lebih dari US$ 9.
Perang ini menyebabkan gangguan terbesar sepanjang sejarah terhadap pasokan minyak dan gas dunia, akibat terganggunya lalu lintas di Selat Hormuz. Jalur tersebut biasanya menangani sekitar 20% aliran minyak dan gas alam cair (LNG) global.
Baca Juga: Harga Minyak Melompat ke Atas US$ 100, Titah Trump Blokade Hormuz Jadi Biang Kerok
Trump mengatakan pada Senin bahwa 34 kapal melewati Selat Hormuz pada Minggu. Namun Reuters menyebut angka tersebut tidak dapat diverifikasi. Dalam kondisi normal, lebih dari 100 kapal melintasi selat itu setiap hari.
Kenaikan harga energi memukul inflasi global
Lonjakan biaya energi mulai membebani konsumen di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, pengemudi mulai mengurangi aktivitas berkendara karena harga bensin dan solar mencapai level tertinggi sejak musim panas 2022, setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Arab Saudi menyebut penjualan minyak mentah ke China diperkirakan turun pada Mei.
Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan negara-negara anggota Uni Eropa harus berkoordinasi terkait harga energi, setelah tagihan bahan bakar fosil meningkat 22 miliar euro atau sekitar US$ 25,70 miliar sejak perang dimulai.
Sejumlah negara juga mengumumkan bantuan darurat untuk menahan dampak lonjakan biaya energi.
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menurunkan proyeksi permintaan minyak dunia pada kuartal kedua sebesar 500.000 barel per hari.
Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengatakan negara-negara anggota IEA dapat kembali melepas cadangan minyak strategis jika diperlukan, meskipun ia berharap langkah itu tidak perlu dilakukan.
Harga spot minyak mentah cetak rekor
Di pasar spot, harga minyak fisik untuk pengiriman segera ke Eropa diperdagangkan pada rekor tertinggi sekitar US$ 150 per barel.
“Jika Trump benar-benar mendukung ancaman blokadenya dengan pengerahan kapal sungguhan, konvergensi antara pasar berjangka dan pasar fisik bisa segera terjadi,” kata analis RBC Capital Markets Helima Croft.
Trump juga memperingatkan bahwa kapal cepat Iran yang mendekati blokade maritim AS akan “dilenyapkan.”
Namun, sekutu NATO menegaskan mereka tidak akan terlibat dalam rencana blokade Trump, dan hanya bersedia melakukan intervensi setelah pertempuran berakhir.
Direktur energy futures Mizuho, Bob Yawger, mengatakan masih ada harapan situasi mereda.
Tonton: Emas Masih Fluktuatif, Ke Mana Arah Harga Pekan Ini?
“Sudah beberapa hari Iran menyerang negara tetangganya, dan AS serta Israel tidak menyerang Iran. Mungkin ada titik terang di ujung terowongan,” kata Yawger.
“Untuk saat ini, gencatan senjata masih bertahan, dan kedua pihak tampaknya masih berbicara,” tambahnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













