Sumber: Yahoo News | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Sudah tepat satu tahun sejak Donald Trump kembali dilantik sebagai presiden Amerika Serikat, menjadikannya presiden kedua dalam sejarah AS yang kembali ke Gedung Putih setelah kalah dalam pemilihan ulang empat tahun sebelumnya.
Kini, di akhir tahun pertamanya kembali berkuasa, jajak pendapat terbaru Yahoo/YouGov menunjukkan semakin banyak warga Amerika yang menilai Trump sebagai presiden yang lebih buruk dari perkiraan mereka dan bahwa ia juga mengubah Amerika ke arah yang lebih buruk.
Melansir Yahoo News, survei terhadap 1.709 orang dewasa AS ini dilakukan pada 8–12 Januari, tak lama setelah Trump menggulingkan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro, mengancam akan merebut Greenland dari Denmark dengan paksa, serta melontarkan wacana penggunaan Insurrection Act terhadap demonstran anti-ICE di Minneapolis.
Survei ini dilakukan tepat sebelum Trump dan timnya merayakan “Satu Tahun MAGA” lewat serangkaian unggahan di media sosial.
“Setahun lalu, segalanya berubah,” tulis akun resmi Gedung Putih di platform X. “Kembalinya kekuatan. Kembalinya America First. Era kemenangan telah dimulai, dan ini baru permulaan.”
Namun, semakin banyak warga Amerika yang tampaknya tidak sependapat.
Sebanyak 49% responden kini mengatakan Trump mengubah Amerika ke arah yang lebih buruk, dibandingkan hanya 34% yang menilai ia mengubah Amerika ke arah yang lebih baik. Hanya 7% yang merasa Trump tidak benar-benar mengubah apa pun.
Baca Juga: Harga Bitcoin 2026: Analis Ramal Lompatan Hingga 55%!
Pada Maret lalu, persentase yang menilai Trump mengubah Amerika ke arah yang lebih buruk masih 43%, sementara yang menilai “ke arah yang lebih baik” sebesar 40%. Selisihnya hanya 3 poin. Kini, jarak itu melebar menjadi 15 poin.
Penyebab utamanya adalah pergeseran sikap pemilih independen.
Sebelum Trump kembali menjabat, lebih banyak independen yang berharap ia akan mengubah Amerika ke arah yang lebih baik (41%) dibandingkan yang memperkirakan sebaliknya (34%).
Namun pada Maret, dua bulan setelah masa jabatan keduanya dimulai, 46% independen menilai Trump mengubah Amerika ke arah yang lebih buruk, sementara 36% menilai ke arah yang lebih baik.
Saat ini, angkanya berubah drastis: 57% menilai lebih buruk dan hanya 22% menilai lebih baik. Artinya, penilaian “mengubah Amerika ke arah yang lebih buruk” di kalangan independen melonjak 23 poin selama masa jabatan kedua Trump, sementara penilaian “ke arah yang lebih baik” anjlok 19 poin.
Bagi banyak warga Amerika, kinerja Trump semakin jauh dari ekspektasi. Setelah satu tahun menjabat kembali, hanya 28% yang menilai Trump sebagai presiden yang lebih baik dari perkiraan mereka. Hampir dua kali lipatnya, yakni 49%, mengatakan ia lebih buruk dari yang mereka bayangkan. Sebanyak 20% menilai kinerjanya “kurang lebih sama”.
Baca Juga: Segera Update! Jutaan iPhone Rentan Dibobol, Ini Daftarnya
Kesenjangan antara penilaian “lebih buruk” dan “lebih baik” kini mencapai 21 poin persentase, dua kali lipat dibandingkan Maret lalu. Saat itu, 41% menilai Trump lebih buruk dari ekspektasi, sementara 30% menilai lebih baik.
Di kalangan Partai Republik, angka Trump nyaris tidak berubah: pada Maret, 63% menilai kinerjanya “lebih baik dari perkiraan” dan 9% “lebih buruk”, dan angkanya masih sama hingga kini. Namun di kalangan Demokrat, penilaian “lebih buruk dari perkiraan” naik 10 poin menjadi 86%, sementara penilaian “kurang lebih sama” turun 8 poin menjadi 10%.
Sementara itu, mayoritas independen (57%) kini menilai Trump lebih buruk dari yang mereka perkirakan, dan hanya 16% yang menilai lebih baik. Pada Maret, angkanya masih jauh lebih berimbang, yakni 44% berbanding 26%.
Tingkat persetujuan kinerja Trump secara keseluruhan (40% setuju, 56% tidak setuju) relatif tidak berubah dalam beberapa bulan terakhir, begitu pula penilaian terhadap isu-isu individual. Namun jika dilihat dalam rentang waktu yang lebih panjang, satu tahun pertama masa jabatan kedua Trump, terlihat pola yang jelas.
Semakin banyak warga Amerika yang menilai Trump memiliki prioritas yang keliru.
Pada Maret, Yahoo dan YouGov menanyakan apakah Trump lebih banyak fokus pada “isu-isu paling penting bagi Amerika” atau pada “isu-isu yang kurang penting”. Saat itu, jawabannya hampir seimbang: 43% memilih isu penting, 45% memilih isu kurang penting.
Kini kondisinya berubah. Mayoritas warga Amerika (51%) menilai Trump menghabiskan masa jabatan keduanya dengan fokus pada isu-isu yang relatif tidak penting, sementara hanya 38% yang menilai ia fokus pada hal-hal paling krusial.
Biaya hidup tetap menjadi beban terbesar bagi kepresidenan Trump. Sebanyak 70% responden menilai ia “tidak cukup fokus” pada isu ini. Kurang dari seperempat responden menilai fokusnya sudah “pas” (21%) atau “terlalu berlebihan” (2%).
Sebaliknya, mayoritas warga Amerika (52%) menilai Trump terlalu berfokus pada “penangkapan dan deportasi imigran”.
Tonton: Profil Thomas Djiwandono, Keponakan Prabowo yang Dicalonkan Jadi Deputi Gubernur BI
Seiring merosotnya angka jajak pendapat, Trump semakin sering menyalahkan pendahulunya, Presiden Joe Biden. Namun hanya 22% warga Amerika yang sepakat bahwa Biden adalah pihak yang “paling bertanggung jawab” atas “kondisi negara saat ini”. Sebanyak 53% menilai Trump yang paling bertanggung jawab, sementara 25% mengatakan keduanya sama-sama bertanggung jawab.
Pesimisme terhadap masa depan Amerika juga semakin meluas. Pada musim panas 2020, di puncak pandemi COVID-19, hanya 25% orang dewasa AS yang menilai “masa terbaik Amerika sudah berlalu”, sementara hampir dua kali lipatnya (46%) percaya masa terbaik masih akan datang.
Saat itu Trump juga menjabat sebagai presiden, dan Demokrat (51%) hampir sama optimistisnya dengan Republik (53%) dalam menilai masa depan Amerika. Kurang dari seperempat dari masing-masing kelompok berpandangan sebaliknya.
Kini, situasinya berbeda. Lebih banyak Demokrat yang menilai masa terbaik Amerika sudah berlalu (42%) dibandingkan yang menilai masih akan datang (29%). Angka ini hampir sama di kalangan independen.
Hanya pemilih Partai Republik yang tetap yakin, dengan selisih 63% berbanding 17%, bahwa masa depan Amerika akan lebih cerah dibandingkan masa lalunya.
Selanjutnya: Produk AS Terancam! Eropa Berani Lawan Trump, Batalkan Pembahasan Dagang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













