Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga emas turun lebih dari 1% pada perdagangan Senin (9/3/2026). Penurunan ini dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi di tengah kekhawatiran inflasi akibat konflik di Timur Tengah.
Data Reuters menunjukkan, harga emas spot tercatat turun 1,5% menjadi US$ 5.091,62 per ons pada pukul 13.40 waktu New York (17.40 GMT). Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman April ditutup melemah 1,1% ke level US$ 5.103,70 per ons.
Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan, kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi akibat ketidakpastian perang menjadi faktor utama yang menekan harga emas.
Meski demikian, konflik yang berkepanjangan juga diperkirakan tetap menjaga permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven, sehingga dapat menjadi penopang harga emas.
Emas selama ini dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, daya tarik emas biasanya meningkat saat suku bunga rendah, karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (zero-yield asset).
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Harga Minyak Melonjak
Sementara itu, dolar AS menguat seiring melonjaknya harga minyak yang mendekati US$ 120 per barel. Kondisi ini membuat investor berbondong-bondong mencari aset likuid karena khawatir perang berkepanjangan di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan energi global dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.
Penguatan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga menekan permintaan.
Di sisi geopolitik, militer Israel menyatakan telah melancarkan serangan ke wilayah Iran bagian tengah dan menyerang ibu kota Lebanon, Beirut. Konflik tersebut juga berdampak pada penutupan efektif Selat Hormuz, jalur strategis tempat sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia melewati kawasan dekat pantai Iran.
Dari sisi data ekonomi, pasar menantikan rilis indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Februari yang dijadwalkan pada Rabu. Selain itu, indikator inflasi pilihan bank sentral AS, yakni indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), akan dirilis pada Jumat.
Tonton: Harga LNG Spot Asia Tembus Level Tertinggi 3 Tahun Imbas Krisis AS–Iran
Menurut Wyckoff, jika data inflasi yang dirilis pekan ini lebih tinggi dari perkiraan, maka hal itu dapat membuat The Federal Reserve menghadapi dilema kebijakan dan berpotensi memicu penurunan lanjutan pada harga emas.
Adapun rapat kebijakan The Fed berikutnya dijadwalkan pada 17–18 Maret, dan pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan menahan suku bunga.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,2% menjadi US$ 84,18 per ons. Sementara itu, platinum naik 1,1% ke US$ 2.158,02 per ons, dan palladium menguat 2,4% menjadi US$ 1.663,79 per ons.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













