Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga emas turun pada Jumat (22/5/2026) dan bersiap mencatat kerugian mingguan kedua berturut-turut. Pelemahan ini dipicu lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran inflasi serta memperbesar peluang kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.
Melansir Reuters, harga emas spot turun 0,6% menjadi US$ 4.515,83 per ons pada pukul 13.00 EDT (17.00 GMT), setelah sempat melemah 1% di awal perdagangan. Secara mingguan, emas turun 0,4%.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni ditutup melemah 0,4% menjadi US$ 4.523,20 per ons.
Analis StoneX, Rhona O'Connell, mengatakan pelaku pasar kini sangat fokus pada Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak utama dunia, karena potensi gangguan rantai pasok dapat memicu lonjakan inflasi dan mendorong kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Harga minyak naik karena investor meragukan pembicaraan damai antara AS dan Iran akan menghasilkan terobosan berarti.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga memangkas pelemahan sebelumnya dan bertahan dekat level tertinggi lebih dari satu tahun, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Baca Juga: Harga Emas Naik Lagi, Optimisme Deal AS-Iran Redam Kekhawatiran Suku Bunga Tinggi
Kenaikan biaya energi biasanya memicu inflasi lebih tinggi dan dapat membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini cenderung melemahkan permintaan terhadap emas batangan, meski logam mulia tersebut juga dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 58% untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin hingga Desember 2026, berdasarkan alat FedWatch milik CME Group.
Gubernur The Fed Christopher Waller, yang sebelumnya mendukung penurunan suku bunga, mengatakan bank sentral sebaiknya menghapus bias pelonggaran kebijakan dan membuka peluang untuk kenaikan suku bunga.
Di sisi lain, sentimen konsumen AS anjlok ke level terendah sepanjang sejarah pada Mei akibat lonjakan harga bensin yang memicu kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat.
Tonton: BWPT Berencana Hapus Defisit Rp 3,7 Triliun Lewat Kuasi Reorganisasi
Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot turun 1,1% menjadi US$ 75,85 per ons. Platinum melemah 2,5% menjadi US$ 1.916,62 per ons, sedangkan paladium turun 2,1% menjadi US$ 1.349,30 per ons. Seluruh logam tersebut juga berada di jalur penurunan mingguan.
Tabel Pergerakan Harga Logam Mulia
| Instrumen | Harga Terakhir | Perubahan Harian | Kinerja Mingguan |
|---|---|---|---|
| Emas Spot | US$ 4.515,83/ons | -0,6% | -0,4% |
| Emas Berjangka AS | US$ 4.523,20/ons | -0,4% | Melemah |
| Perak Spot | US$ 75,85/ons | -1,1% | Melemah |
| Platinum | US$ 1.916,62/ons | -2,5% | Melemah |
| Paladium | US$ 1.349,30/ons | -2,1% | Melemah |
Tabel Faktor Penggerak Harga Emas
| Faktor Penggerak Pasar | Dampak ke Emas |
|---|---|
| Harga minyak naik | Memicu kekhawatiran inflasi |
| Imbal hasil obligasi AS naik | Menekan daya tarik emas |
| Peluang kenaikan suku bunga The Fed 58% | Negatif untuk emas |
| Sentimen konsumen AS melemah | Bisa menopang permintaan safe haven |
| Ketegangan Iran-AS | Menambah volatilitas pasar |
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













