kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.788.000   -12.000   -0,43%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%
GLOBAL /

Minyak Dunia Bergejolak! Iran-AS Belum Sepakat soal Uranium dan Hormuz


Sabtu, 23 Mei 2026 / 05:36 WIB
Minyak Dunia Bergejolak! Iran-AS Belum Sepakat soal Uranium dan Hormuz
ILUSTRASI. Negosiasi AS-Iran mandek, harga minyak Brent melonjak 0,94% hari Jumat. Pasokan global terancam defisit. (REUTERS/Adriano Machado)

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia mengalami kenaikan pada Jumat (22/5/2026), seiring kekhawatiran investor bahwa Amerika Serikat dan Iran tidak akan mampu mencapai kesepakatan damai yang memungkinkan lalu lintas pengiriman kembali normal di Selat Hormuz.

Data Reuters menunjukkan, harga kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup di level US$ 103,54 per barel, naik 96 sen atau 0,94%. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat berakhir di US$ 96,60 per barel, naik 25 sen atau 0,26%. Kedua acuan tersebut sempat melonjak lebih dari 3% pada awal perdagangan.

Namun secara mingguan, Brent turun 5,48% dan WTI merosot 8,37%, dengan harga bergerak volatil seiring berubah-ubahnya ekspektasi pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan AS.

Pergerakan Harga Minyak Dunia

Jenis Minyak Harga Penutupan Perubahan Harian Kinerja Mingguan
Brent US$ 103,54/barel +0,94% -5,48%
WTI US$ 96,60/barel +0,26% -8,37%

“Kita melihat begitu banyak headline yang berubah-ubah, sulit untuk mengikutinya,” ujar analis senior Price Futures Group, Phil Flynn. “Cerita terbaru adalah Iran akan menyerahkan uranium sebagai imbalan pencabutan sanksi. Tetapi kabarnya terus berubah bahkan sebelum tinta koran mengering.”

Sumber diplomatik di Islamabad mengatakan kepada kantor berita negara Iran, IRNA, bahwa kepala angkatan darat Pakistan telah berangkat menuju Iran. Sebelumnya, sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa kesenjangan dengan AS mulai menyempit, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut ada “beberapa tanda positif” dalam pembicaraan tersebut.

“Ada kemajuan. Saya tidak ingin melebih-lebihkannya, tapi juga tidak ingin meremehkannya,” kata Rubio kepada wartawan setelah pertemuan para menteri NATO di Swedia. “Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kita belum sampai ke sana, tapi saya berharap bisa mencapainya.”

Baca Juga: Harga Emas Tersungkur, Pasar Bertaruh The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga

Rubio mengatakan AS terus berkomunikasi dengan Pakistan yang memfasilitasi pembicaraan dengan Iran.

Meski demikian, kedua negara masih berbeda pandangan terkait stok uranium Iran dan pengendalian Selat Hormuz.

“Saya rasa pasar sangat dipengaruhi oleh headline,” kata John Kilduff, partner di Again Capital. “Kita tampaknya menuju penyelesaian, tetapi tingkat kejelasannya masih sangat rendah.”

Rubio juga menegaskan AS belum meminta bantuan negara-negara anggota NATO untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, mengatakan persediaan minyak global menyusut dengan cepat karena arus minyak melalui Selat Hormuz melambat drastis.

“Optimisme terhadap kemungkinan gencatan senjata dalam waktu dekat dan retorika bearish setiap kali Brent mendekati US$ 110 membuat harga minyak belum melonjak jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Secara terpisah, tim negosiasi Qatar tiba di Teheran pada Jumat dengan koordinasi AS guna membantu mengamankan kesepakatan, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Enam pekan setelah gencatan senjata rapuh dalam perang AS-Israel melawan Iran, tingginya harga minyak membuat investor khawatir terhadap inflasi dan prospek ekonomi global.

BMI, unit dari Fitch Solutions, menaikkan proyeksi rata-rata harga Brent tahun 2026 menjadi US$ 90 per barel dari sebelumnya US$ 81,50. Revisi ini mencerminkan defisit pasokan, waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki infrastruktur energi Teluk yang rusak, serta periode normalisasi pascakonflik selama enam hingga delapan pekan.

Sebelum perang, sekitar 20% pasokan energi global melewati Selat Hormuz. Konflik tersebut telah menghilangkan 14 juta barel per hari minyak dari pasar, atau setara 14% pasokan global, termasuk ekspor dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Tonton: China Bikin “Payung Luar Angkasa”! Teknologi Baru Penantang Starlink Elon Musk

Kepala perusahaan minyak negara Uni Emirat Arab ADNOC mengatakan arus penuh minyak melalui selat tersebut kemungkinan baru kembali normal pada kuartal I atau II tahun 2027, bahkan jika konflik berakhir sekarang.

Sementara itu, tujuh negara produsen utama OPEC+ diperkirakan akan menyetujui kenaikan produksi minyak secara moderat untuk Juli saat bertemu pada 7 Juni mendatang, menurut empat sumber. Namun distribusi minyak dari sejumlah negara masih terganggu akibat perang.

 

Faktor Penggerak Harga Minyak

Faktor Dampak ke Harga Minyak
Lambatnya negosiasi AS-Iran Mendorong harga naik
Gangguan arus minyak Selat Hormuz Menekan pasokan global
Kekhawatiran inflasi global Memicu volatilitas pasar
Potensi kenaikan produksi OPEC+ Menahan kenaikan harga
Penurunan stok minyak global Memperkuat sentimen bullish

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

×