kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.047.000   8.000   0,26%
  • USD/IDR 16.875   -95,00   -0,56%
  • IDX 7.441   103,54   1,41%
  • KOMPAS100 1.037   16,87   1,65%
  • LQ45 760   9,37   1,25%
  • ISSI 262   5,17   2,01%
  • IDX30 401   3,98   1,00%
  • IDXHIDIV20 495   1,94   0,39%
  • IDX80 117   1,87   1,63%
  • IDXV30 135   1,59   1,20%
  • IDXQ30 129   0,82   0,64%
GLOBAL /

Minyak Dunia Turun Drastis Hingga 11%, Kenapa Analis Masih Cemas?


Rabu, 11 Maret 2026 / 05:31 WIB
Diperbarui Rabu, 11 Maret 2026 / 05:38 WIB
Minyak Dunia Turun Drastis Hingga 11%, Kenapa Analis Masih Cemas?
ILUSTRASI. Penurunan harga minyak 11% pada Selasa (10/3/2026), menjadi yang terbesar sejak 2022. (REUTERS/Dado Ruvic)

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia anjlok tajam lebih dari 11% pada perdagangan Selasa (10/3/2026). Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak 2022 setelah muncul harapan bahwa perang antara Amerika Serikat dan Iran bisa segera berakhir.

Reuters melaporkan, harga minyak jenis Brent ditutup turun US$ 11,16 atau sekitar 11% menjadi US$ 87,80 per barel. Sementara minyak mentah AS jenis WTI juga merosot US$ 11,32 atau 11,9% ke level US$ 83,45 per barel.

Kedua acuan harga minyak tersebut mencatat penurunan harian terbesar sejak Maret 2022. Penurunan ini terjadi hanya sehari setelah harga minyak sempat melonjak hingga di atas US$ 119 per barel, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Sentimen pasar berubah setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang dengan Iran kemungkinan bisa segera berakhir.

Jalur minyak global mulai kembali terbuka

Harga minyak sempat turun lebih dalam pada tengah perdagangan setelah Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan militer Amerika Serikat telah membantu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Menurut Wright, Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker minyak agar dapat melintasi jalur strategis tersebut dengan aman sehingga pasokan minyak tetap mengalir ke pasar global.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia karena sebagian besar ekspor minyak Timur Tengah melewati wilayah ini.

Analis pasar energi sekaligus pendiri Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, mengatakan penurunan harga minyak mencerminkan harapan pasar bahwa jalur perdagangan energi global akan kembali normal.

Menurutnya, penurunan harga energi juga memberi keuntungan politik bagi pemerintahan AS karena dapat meredakan tekanan biaya hidup bagi konsumen menjelang pemilu paruh waktu.

Pasokan minyak diperkirakan tetap ketat

Meski harga minyak turun tajam, sejumlah analis memperingatkan bahwa pasokan global belum tentu pulih dengan cepat meskipun konflik berakhir.

Ketua dan analis utama Wood Mackenzie, Simon Flowers, mengatakan rantai pasokan minyak membutuhkan waktu untuk kembali normal.

Jika sumur minyak sempat ditutup dalam waktu lama, proses untuk memulihkan produksi hingga kapasitas penuh bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan lebih lama.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps memperingatkan bahwa Teheran tidak akan mengizinkan satu liter pun minyak keluar dari kawasan tersebut jika serangan Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut.

Baca Juga: Harga Emas Anjlok 1,5%: Mengapa Safe Haven Tak Bertaji?

Upaya stabilisasi pasar energi

Sejumlah opsi juga sedang dipertimbangkan pemerintah AS untuk menekan lonjakan harga energi. Di antaranya melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia terkait perang di Ukraina serta melepas cadangan minyak strategis.

Kelompok negara maju G7 juga membahas kemungkinan penggunaan cadangan minyak darurat. Namun para menteri energi G7 belum menyepakati langkah tersebut dan meminta International Energy Agency untuk menilai kondisi pasar terlebih dahulu.

Sementara itu, lembaga U.S. Energy Information Administration memperkirakan harga minyak Brent masih akan bertahan di atas US$ 95 per barel dalam dua bulan ke depan akibat gangguan pasokan, sebelum turun ke sekitar US$ 70 per barel pada akhir tahun.

Konflik tetap memicu gangguan pasokan

Walau pasar mulai optimistis, pertempuran masih berlangsung. Amerika Serikat dan Israel kembali melancarkan serangan udara besar ke Iran pada Selasa.

Raksasa energi Arab Saudi, Saudi Aramco, bahkan memperingatkan pasar minyak global bisa menghadapi dampak “katastrofik” jika konflik terus mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Gangguan pasokan juga mulai terlihat di kawasan Teluk. Perusahaan minyak nasional Abu Dhabi National Oil Company dilaporkan menutup kilang Ruwais setelah kebakaran yang dipicu serangan drone di kompleks tersebut.

Tonton: ALERT! Perang Iran Menguras Persenjataan AS – Apakah China Menunggu?

Sementara itu, bank investasi Goldman Sachs mengatakan pihaknya belum mengubah proyeksi harga minyak karena situasi geopolitik masih sangat dinamis.

Goldman Sachs tetap memperkirakan harga Brent berada di sekitar US$ 66 per barel pada kuartal IV, sedangkan minyak WTI diproyeksikan berada di kisaran US$ 62 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

×