Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga emas tertekan pada Selasa (12/5) seiring memudarnya harapan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran yang mendorong harga minyak naik. Kenaikan harga minyak menambah kekhawatiran pasar terhadap inflasi serta potensi suku bunga global yang lebih tinggi.
Data Reuters menunjukkan, harga emas spot turun 1,2% menjadi US$ 4.678,49 per ons pada pukul 17.57 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 0,9% menjadi US$ 4.686,70.
“Kenaikan harga minyak meningkatkan risiko bank sentral AS dan bank sentral lainnya harus menaikkan suku bunga untuk melawan sesuatu yang kemungkinan besar akan muncul sebagai stagflasi. Jadi emas merespons hal itu,” kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities.
Harga minyak melonjak lebih dari 3% setelah harapan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran memudar. Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata berada dalam kondisi “hidup segan mati tak mau” setelah Teheran menolak proposal AS untuk mengakhiri konflik.
Data menunjukkan harga konsumen AS kembali naik untuk bulan kedua berturut-turut pada April. Hal ini menyebabkan kenaikan inflasi tahunan terbesar dalam hampir tiga tahun terakhir, sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tetap tinggi untuk sementara waktu.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya menekan harga emas karena emas tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Baca Juga: AS Beri Sanksi 3 Orang dan 9 Perusahaan Terkait Penjualan Minyak Iran ke China
Strategis logam mulia UBS Investment Bank, Joni Teves, mengatakan UBS masih mempertahankan pandangan bullish terhadap emas karena faktor pendorong fundamentalnya masih kuat.
“Kami masih percaya harga dapat pulih dari level saat ini dan terus mencetak rekor tertinggi baru tahun ini,” ujarnya.
Fokus pasar juga tertuju pada rilis data Producer Price Index (PPI) AS pada Rabu serta pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing yang dijadwalkan berlangsung Kamis hingga Jumat.
Sementara itu, harga perak spot turun 1,1% menjadi US$ 85,12 per ons, setelah sempat menyentuh level tertinggi dua bulan sebelumnya.
Analis SP Angel menyebut harga perak melonjak karena ekspektasi defisit pasokan yang semakin melebar seiring meningkatnya permintaan fisik. Mereka menambahkan, kenaikan harga minyak turut mendorong peningkatan penjualan kendaraan listrik (EV), yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan permintaan perak untuk panel surya dan teknologi energi terbarukan lainnya.
Tonton: Setelah Dikritik Trump, Inggris Akhirnya Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
Di sisi lain, bank-bank India kembali melanjutkan impor emas dan perak setelah sempat terhenti lebih dari sebulan. Hal ini terjadi setelah mereka sepakat membayar bea masuk sebesar 3% yang sebelumnya membuat para pemberi pinjaman menghentikan pengiriman, menurut sumber Reuters.
Harga platinum turun 1,5% menjadi US$ 2.099,05 per ons, sedangkan palladium melemah 2% menjadi US$ 1.479,27 per ons.
Harga Logam Mulia Dunia (Selasa, 12 Mei 2026)
| Instrumen | Harga Terakhir (US$/ons) | Perubahan |
|---|---|---|
| Emas Spot | 4.678,49 | -1,2% |
| Emas Futures AS | 4.686,70 | -0,9% |
| Perak Spot | 85,12 | -1,1% |
| Platinum | 2.099,05 | -1,5% |
| Palladium | 1.479,27 | -2,0% |
Faktor yang Menekan Harga Emas
| Faktor | Dampak ke Pasar |
|---|---|
| Harapan damai Iran memudar | Harga minyak naik |
| Harga minyak naik >3% | Risiko inflasi meningkat |
| Inflasi AS naik dua bulan berturut-turut | Ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama |
| Suku bunga tinggi | Menekan emas (aset tanpa yield) |
| Rilis PPI AS (Rabu) | Jadi katalis volatilitas harga emas |
| Pertemuan Trump-Xi (Kamis-Jumat) | Berpotensi memicu pergerakan risk-on/risk-off |
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













